Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Tipe-Tipe Kelompok Sosial
Setelah paham perihal pengertian dan ciri-ciri sebuah kelompok sosial, Anda mungkin bertanya, "seperti apa bentuk kelompok sosial dalam kenyataannya?" Beberapa pembagian terstruktur mengenai berikut akan membantu Anda menjawab pertanyaan tersebut.
Klasifikasi Durkheim
Durkheim membagi kelompok sosial menjadi dua, yakni kelompok sosial yang didasarkan pada solidaritas mekanik dan yang didasarkan pada solidaritas organik. Solidaritas mekanik merupakan ciri dari masyarakat yang masih sederhana dan belum mengenal pembagian kerja.
Tiap-tiap keIompok sanggup mernenuhi keperluan mereka masing-masing tanpa memerlukan santunan atau kolaborasi dengan kelompok di luarnya.
Dalam masyarakat yang menganut solidaritas mekanik, yang diutamakan ialah persamaan sikap dan sikap. Seluruh warga masyarakat diikat oleh kesadaran kolektif, yaitu suatu kesadaran bersama yang mempunyai tiga karakteristik, yaitu meliputi keseluruhan kepercayaan dan perasaan kelompok, ada di luar warga, dan bersifat memaksa. Sanksi terhadap pelanggaran kesadaran bersama akan dikenai eksekusi yang bersifat represif (hukuman pidana). Kesadaran bersama itu menjaga persatuan, sedangkan eksekusi bertujuan semoga kondisi tidak seimbang akhir sikap menyimpang sanggup pulih kembali.
Solidaritas organik merupakan bentuk solidaritas yang telah mengenal pembagian kerja. Bentuk solidaritas ini bersifat mengikat, sehingga unsur-unsur di dalam masyarakat tersebut saling bergantung. Karena adanya kesalingtergantungan ini, ketiadaan salah satu unsur akan menjadikan gangguan pada kelangsungan hidup bermasyarakat.
Pada masyarakat dengan solidaritas organik, ikatan utama yang mempersatukan masyarakat bukan lagi kesadaran kolektif, melainkan kesepakatan yang terjalin di antara banyak sekali profesi. Hukum yang menonjol bukan aturan pidana, melainkan ikatan aturan perdata. Sanksi terhadap pelanggaran kesepakatan bersama bersifat restitutif. Artinya, si pelanggar harus membayar ganti rugi kepada yang dirugikan untuk mengembalikan keseimbangan yang telah ia langgar.
Klasifikasi Ferdinand Tonnies
Menurut Ferdinand Tonnies, kelompok di dalam masyarakat dibedakan menjadi dua, yaitu gemeinschaft dan gesselschaft. Gemeinschaft merupakan kehidupan bersama yang intim, pribadi, dan eksklusif. Suatu keterikatan yang dibawa semenjak lahir. Contohnya adalah, ikatan perkawinan, agama, bahasa, adat, dan rumah tangga.
Gesselschaft merupakan kehidupan publik sebagai sekumpulan orang yang secara kebetulan hadir bersama tapi masing-masing tetap mandiri. Gesselschaft bersifat sementara dan semu. Di dalam gemeinschaft individu tetap bersatu meskipun tinggal secara terpisah, sebaliknya di dalam gesselschaft, individu intinya terpisah meskipun ada faktor pemersatu. Contoh gesselschaft ialah ikatan pekerja, dan ikatan pengusaha.
Klasifikasi Charles H. Cooley dan Ellsworth Farris
Menurut Charles H. Cooley, di dalam masyarakat terdapat kelompok primer. Kelompok ini ditandai dengan pergaulan dan kolaborasi tatap muka yang intim. Ruang lingkup terpenting kelompok primer ialah keluarga, sobat bermain pada masa kecil, rukun warga, dan komunitas orang dewasa. Pergaulan yang intim ini menghasilkan keterpaduan individu dalam satu kesatuan, menciptakan seseorang hidup dan mempunyai tujuan kelompok bersama.
Klasifikasi kelompok juga diungkapkan oleh Ellsworth Farris. Ia mengkritik Cooley yang menurutnya hanya menjelaskan kelompok primer. Menurut Farris, di dalam masyarakat juga terdapat kelompok sekunder yang formal, tidak pribadi, dan berciri kelembagaan. Contoh kelompok sekunder ialah koperasi dan partai politik.
Klasifikasi W.G. Sumner
Sumner membagi kelompok menjadi dua, yaitu in-group dan out-group. Menurut Sumner, dalam masyarakat primitif yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil dan tersebar di suatu wilayah terdapat pembagian jenis kelompok, yaitu kelompok dalam (in-group) dan kelompok luar (out-group).
Di kalangan kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerja sama, keteraturan, dan kedamaian. Apabila kelompok dalam bekerjasama dengan kelompok luar, muncullah rasa kebencian, permusuhan, perang, atau perampokan. Rasa kebencian itu diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain dan menyebabkan perasaan solidaritas dalam kelompok (in-group feeling). Anggota kelompok menganggap kelompok mereka sendiri sebagai sentra segala-galanya (etnosentris).
Kajian dari Sumner ini sanggup dipakai untuk menjelaskan problem tawuran antarsiswa. Sebagaimana masyarakat primitif, di kalangan siswa dari suatu sekolah sanggup muncul in-group feeling yang kuat, yang terwujud dalam rasa solidaritas, kesetiaan, dan pengorbanan. Perasaan ini sanggup memicu etnosentrisme sehingga mereka memandang siswa dari sekolah lain dengan penuh rasa permusuhan, kebencian, dendam, dan hasrat ingin menyakiti. Rasa permusuhan antarsekolah ini diwariskan oleh satu angkatan siswa ke angkatan siswa yang lain.
Klasifikasi Soerjono Soekanto
Berbeda dengan Durkheim, Tonnies, Cooley, Farris, dan Sumner, Soerjono Soekanto membagi jenis kelompok berdasarkan enam hal, yaitu besar kecilnya jumlah anggota, kepentingan wilayah, derajat organisasi, derajat interaksi sosial, kesadaran terhadap jenis yang sama, serta kekerabatan sosial.
Berdasarkan Besar Kecilnya Jumlah Anggota
Kelompok sosial sanggup diklasifikasikan berdasarkan jumlah anggotanya. Menurut George Simmel, bentuk terkecil kelompok sosial terdiri dari satu orang sebagai fokus kekerabatan sosial yang dinamakan, monad. Kemudian, monad dikembangkan dengan meneliti kelompok-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang yang disebut dyad dan triad, serta kelompok-kelompok kecil lainnya. Di samping itu, sebagai perbandingan, Simmel menelaah kelompok-kelompok yang lebih besar, yaitu kelompok yang anggotanya masih saling mengenal (face-to-face groupings). Contoh kelompok jenis ini ialah keluarga, rukun tetangga, dan desa. Kelompok itu sanggup berkembang juga menjadi kelompok-kelompok sosial yang lebih luas menyerupai kota, korporasi, dan negara, di mana anggota-anggotanya tidak mempunyai kekerabatan yang erat.
Berdasarkan Pada Kepentingan dan Wilayah
Ukuran lain yang memilih jenis kelompok sosial ialah kepentingan dan wilayah. Suatu komunitas, misalnya, merupakan kelompok-kelompok atau kesatuan-kesatuan atas dasar wilayah yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan khusus tertentu. Berbeda dengan komunitas asosiasi justru dibuat untuk memenuhi kepentingan tertentu. Sudah tentu anggota-anggota komunitas maupun asosiasi sedikitnya sadar terhadap adanya kepentingan-kepentingan bersama, walaupun tidak dikhususkan secara terinci.
Berlangsungnya suatu kepentingan merupakan ukuran lain bagi pembagian terstruktur mengenai tipe-tipe sosial. Suatu kerumunan (ephimeral group) contohnya merupakan kelompok yang hidup sebentar saja sebab kepentingannya tidak berlangsung lama. Lain halnya dengan kelas atau komunitas yang kepentingannya relatif tetap.
Berdasarkan Derajat Organisasi
Berdasarkan derajat organisasi, kelompok sosial sanggup berupa kelompok yang terorganisasi dengan baik sekali, menyerupai negara, hingga dengan kelompok yang tak terorganisasi menyerupai kerumunan.
Berdasarkan Kesadaran terhadap Jenis yang Sama
Berdasarkan kesadaran terhadap jenis yang sama, kelompok sosial sanggup dibagi atas in-group dan out-group. Setiap kelompok sosial di mana saja berada selalu mempunyai apa srang disebut kelompok in-group (kelompok dalam) dan out-group (kelompok di luar kelompoknya).
Pada in-group, orang mendapat pemahaman bahwa "kami" berbeda dengan "mereka". Artinya, terdapat identitas yang membedakan antara orang-orang di dalam kelompok dan orang-orang yang berada di luar kelompok. Identitas yang dimiliki bersama di dalam kelompok menjadi "kami" atau "milik kami". Sebaliknya identitas yang berasal dari luar kelompok disebut dengan istilah "mereka" atau "milik mereka".
Sikap in-group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat pada anggota-anggota kelompoknya, sedangkan sikap terhadap out-group selalu ditandai dengan antagonisme atau antipati. Perasaan in-group dan out-group atau perasaan dalam dan luar kelompok sanggup merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme.
In-group maupun out-group sanggup dijumpai di semua masyarakat, walaupun kepentingan-kepentingannya tidak selalu sama. Dalam masyarakat yang sederhana jumlahnya tidak begitu banyak dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat yang sudah kompleks.
Berdasarkan Hubungan Sosial dan Tujuan
Berdasarkan kekerabatan sosial dan tujuan, kelompok sosial sanggup dibedakan menjadi kelompok primer dan kelompok sekunder.
1. Kelompok primer (primary group) ialah kelompok-kelompok yang saling mengenal anggotanya, serta terdapat kolaborasi yang bersifat pribadi. Contoh kelompok primer ialah keluarga, kelompok sepermainan, dan rukun tetangga. Jadi, kelompok primer merupakan suatu kelompok di mana orang sanggup mengenal orang lain secara pribadi dan akrab.
Hal tersebut dilakukan melalui kekerabatan yang bersifat informal, akrab, personal, spontan, sentimental, dan eksklusif. Syarat-syarat kelompok primer ialah sebagai berikut.
a) Anggota kelompok secara fisik saling berdekatan dan terdapat interaksi yang intensif.
b) Kelompok tersebut merupakan kelompok kecil, sehingga tiap individu relatif gampang untuk berinteraksi secara langsung.
c) Terdapat kekerabatan yang langgeng antaranggota yang bersangkutan, biasanya ada kekerabatan darah, kekerabatan, ataupun pertemanan.
2. Kelompok sekunder (secondary group) ialah kelompok-kelompok besar yang terdiri dari banyak orang, hubungannya tidak harus saling mengenal secara pribadi, kurang akrab, dan sifatnya tidak begitu langgeng sebab mereka berkumpul berdasarkan kepentingan yang sama. Contoh kelompok sekunder antara lain terdapat pada orang-orang yang melaksanakan kekerabatan kontrak (jual-beli) yang melibatkan munculnya hak dan kewajiban dari masing-masing pihak. Hubungan ini sangat rentan terhadap konflik, terutama jikalau salah satu pihak melanggar hak-haknya.
Dalam konteks Indonesia, kelompok primer dan kelompok sekunder tercermin dalam paguyuban dan patembayan.
1. Paguyuban merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya mempunyai kekerabatan batin yang kuat, bersifat alamiah, serta bersifat kekal. Contohnya, kekerabatan yang terdapat dalam keluarga, kelompok kekerabatan dan kekerabatan dengan tetangga pada masyarakat tradisional atau pada masyarakat pedesaan. Menurut Tonnies, paguyuban mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
a) Intim, yaitu kekerabatan menyeluruh yang mesra.
b) Privat, yaitu kekerabatan yang bersifat pribadi, khusus untuk beberapa orang saja.
c) Eksklusif, kekerabatan tersebut hanya untuk kelompoknya sendiri dan bukan untuk orang luar.
Paguyuban sanggup dibedakan atas 3 tipe, sebagai berikut.
a) Paguyuban sebab ikatan darah atau keturunan. Contohnya, keluarga dan kelompok kekerabatan.
b) Paguyuban sebab daerah tinggal, yaitu suatu paguyuban yang terdiri dari orang-orang yang berdekatan daerah tinggalnya sehingga sanggup saling tolong-menolong. Contohnya, rukun tetangga, rukun warga, dan kelompok arisan.
c) Paguyuban sebab jiwa dan pikiran, yaitu paguyuban yang anggotanya mempunyai jiwa dan pikiran dan ideologi yang sama.
2. Patembayan merupakan bentuk kehidupan bersama di mana di antara anggotanya terdapat ikatan lahir yang bersifat pokok dalam jangka waktu yang relatif pendek. Strukturnya bersifat mekanis menyerupai mesin yang setiap komponennya mempunyai fungsi atau kegunaan. Hal ini terjadi sebab dalam masyarakat patembayan yang diutamakan ialah berlangsungnya suatu kekerabatan perjanjian atau kontrak yang mempunyai tujuan tertentu dan bersifat rasional. Masyarakat patembayan bersifat sementara. Contoh patembayan ialah kekerabatan dalam dunia industri atau organisasi politik.
Klasifikasi Durkheim
Durkheim membagi kelompok sosial menjadi dua, yakni kelompok sosial yang didasarkan pada solidaritas mekanik dan yang didasarkan pada solidaritas organik. Solidaritas mekanik merupakan ciri dari masyarakat yang masih sederhana dan belum mengenal pembagian kerja.
Tiap-tiap keIompok sanggup mernenuhi keperluan mereka masing-masing tanpa memerlukan santunan atau kolaborasi dengan kelompok di luarnya.
Dalam masyarakat yang menganut solidaritas mekanik, yang diutamakan ialah persamaan sikap dan sikap. Seluruh warga masyarakat diikat oleh kesadaran kolektif, yaitu suatu kesadaran bersama yang mempunyai tiga karakteristik, yaitu meliputi keseluruhan kepercayaan dan perasaan kelompok, ada di luar warga, dan bersifat memaksa. Sanksi terhadap pelanggaran kesadaran bersama akan dikenai eksekusi yang bersifat represif (hukuman pidana). Kesadaran bersama itu menjaga persatuan, sedangkan eksekusi bertujuan semoga kondisi tidak seimbang akhir sikap menyimpang sanggup pulih kembali.
Solidaritas organik merupakan bentuk solidaritas yang telah mengenal pembagian kerja. Bentuk solidaritas ini bersifat mengikat, sehingga unsur-unsur di dalam masyarakat tersebut saling bergantung. Karena adanya kesalingtergantungan ini, ketiadaan salah satu unsur akan menjadikan gangguan pada kelangsungan hidup bermasyarakat.
Pada masyarakat dengan solidaritas organik, ikatan utama yang mempersatukan masyarakat bukan lagi kesadaran kolektif, melainkan kesepakatan yang terjalin di antara banyak sekali profesi. Hukum yang menonjol bukan aturan pidana, melainkan ikatan aturan perdata. Sanksi terhadap pelanggaran kesepakatan bersama bersifat restitutif. Artinya, si pelanggar harus membayar ganti rugi kepada yang dirugikan untuk mengembalikan keseimbangan yang telah ia langgar.
Klasifikasi Ferdinand Tonnies
Menurut Ferdinand Tonnies, kelompok di dalam masyarakat dibedakan menjadi dua, yaitu gemeinschaft dan gesselschaft. Gemeinschaft merupakan kehidupan bersama yang intim, pribadi, dan eksklusif. Suatu keterikatan yang dibawa semenjak lahir. Contohnya adalah, ikatan perkawinan, agama, bahasa, adat, dan rumah tangga.
Gesselschaft merupakan kehidupan publik sebagai sekumpulan orang yang secara kebetulan hadir bersama tapi masing-masing tetap mandiri. Gesselschaft bersifat sementara dan semu. Di dalam gemeinschaft individu tetap bersatu meskipun tinggal secara terpisah, sebaliknya di dalam gesselschaft, individu intinya terpisah meskipun ada faktor pemersatu. Contoh gesselschaft ialah ikatan pekerja, dan ikatan pengusaha.
Klasifikasi Charles H. Cooley dan Ellsworth Farris
Menurut Charles H. Cooley, di dalam masyarakat terdapat kelompok primer. Kelompok ini ditandai dengan pergaulan dan kolaborasi tatap muka yang intim. Ruang lingkup terpenting kelompok primer ialah keluarga, sobat bermain pada masa kecil, rukun warga, dan komunitas orang dewasa. Pergaulan yang intim ini menghasilkan keterpaduan individu dalam satu kesatuan, menciptakan seseorang hidup dan mempunyai tujuan kelompok bersama.
Klasifikasi kelompok juga diungkapkan oleh Ellsworth Farris. Ia mengkritik Cooley yang menurutnya hanya menjelaskan kelompok primer. Menurut Farris, di dalam masyarakat juga terdapat kelompok sekunder yang formal, tidak pribadi, dan berciri kelembagaan. Contoh kelompok sekunder ialah koperasi dan partai politik.
Klasifikasi W.G. Sumner
Sumner membagi kelompok menjadi dua, yaitu in-group dan out-group. Menurut Sumner, dalam masyarakat primitif yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil dan tersebar di suatu wilayah terdapat pembagian jenis kelompok, yaitu kelompok dalam (in-group) dan kelompok luar (out-group).
Di kalangan kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerja sama, keteraturan, dan kedamaian. Apabila kelompok dalam bekerjasama dengan kelompok luar, muncullah rasa kebencian, permusuhan, perang, atau perampokan. Rasa kebencian itu diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain dan menyebabkan perasaan solidaritas dalam kelompok (in-group feeling). Anggota kelompok menganggap kelompok mereka sendiri sebagai sentra segala-galanya (etnosentris).
Kajian dari Sumner ini sanggup dipakai untuk menjelaskan problem tawuran antarsiswa. Sebagaimana masyarakat primitif, di kalangan siswa dari suatu sekolah sanggup muncul in-group feeling yang kuat, yang terwujud dalam rasa solidaritas, kesetiaan, dan pengorbanan. Perasaan ini sanggup memicu etnosentrisme sehingga mereka memandang siswa dari sekolah lain dengan penuh rasa permusuhan, kebencian, dendam, dan hasrat ingin menyakiti. Rasa permusuhan antarsekolah ini diwariskan oleh satu angkatan siswa ke angkatan siswa yang lain.
Klasifikasi Soerjono Soekanto
Berbeda dengan Durkheim, Tonnies, Cooley, Farris, dan Sumner, Soerjono Soekanto membagi jenis kelompok berdasarkan enam hal, yaitu besar kecilnya jumlah anggota, kepentingan wilayah, derajat organisasi, derajat interaksi sosial, kesadaran terhadap jenis yang sama, serta kekerabatan sosial.
Berdasarkan Besar Kecilnya Jumlah Anggota
Kelompok sosial sanggup diklasifikasikan berdasarkan jumlah anggotanya. Menurut George Simmel, bentuk terkecil kelompok sosial terdiri dari satu orang sebagai fokus kekerabatan sosial yang dinamakan, monad. Kemudian, monad dikembangkan dengan meneliti kelompok-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang yang disebut dyad dan triad, serta kelompok-kelompok kecil lainnya. Di samping itu, sebagai perbandingan, Simmel menelaah kelompok-kelompok yang lebih besar, yaitu kelompok yang anggotanya masih saling mengenal (face-to-face groupings). Contoh kelompok jenis ini ialah keluarga, rukun tetangga, dan desa. Kelompok itu sanggup berkembang juga menjadi kelompok-kelompok sosial yang lebih luas menyerupai kota, korporasi, dan negara, di mana anggota-anggotanya tidak mempunyai kekerabatan yang erat.
Berdasarkan Pada Kepentingan dan Wilayah
Ukuran lain yang memilih jenis kelompok sosial ialah kepentingan dan wilayah. Suatu komunitas, misalnya, merupakan kelompok-kelompok atau kesatuan-kesatuan atas dasar wilayah yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan khusus tertentu. Berbeda dengan komunitas asosiasi justru dibuat untuk memenuhi kepentingan tertentu. Sudah tentu anggota-anggota komunitas maupun asosiasi sedikitnya sadar terhadap adanya kepentingan-kepentingan bersama, walaupun tidak dikhususkan secara terinci.
Berlangsungnya suatu kepentingan merupakan ukuran lain bagi pembagian terstruktur mengenai tipe-tipe sosial. Suatu kerumunan (ephimeral group) contohnya merupakan kelompok yang hidup sebentar saja sebab kepentingannya tidak berlangsung lama. Lain halnya dengan kelas atau komunitas yang kepentingannya relatif tetap.
Berdasarkan Derajat Organisasi
Berdasarkan derajat organisasi, kelompok sosial sanggup berupa kelompok yang terorganisasi dengan baik sekali, menyerupai negara, hingga dengan kelompok yang tak terorganisasi menyerupai kerumunan.
Berdasarkan Kesadaran terhadap Jenis yang Sama
Berdasarkan kesadaran terhadap jenis yang sama, kelompok sosial sanggup dibagi atas in-group dan out-group. Setiap kelompok sosial di mana saja berada selalu mempunyai apa srang disebut kelompok in-group (kelompok dalam) dan out-group (kelompok di luar kelompoknya).
Pada in-group, orang mendapat pemahaman bahwa "kami" berbeda dengan "mereka". Artinya, terdapat identitas yang membedakan antara orang-orang di dalam kelompok dan orang-orang yang berada di luar kelompok. Identitas yang dimiliki bersama di dalam kelompok menjadi "kami" atau "milik kami". Sebaliknya identitas yang berasal dari luar kelompok disebut dengan istilah "mereka" atau "milik mereka".
Sikap in-group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat pada anggota-anggota kelompoknya, sedangkan sikap terhadap out-group selalu ditandai dengan antagonisme atau antipati. Perasaan in-group dan out-group atau perasaan dalam dan luar kelompok sanggup merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme.
In-group maupun out-group sanggup dijumpai di semua masyarakat, walaupun kepentingan-kepentingannya tidak selalu sama. Dalam masyarakat yang sederhana jumlahnya tidak begitu banyak dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat yang sudah kompleks.
Berdasarkan Hubungan Sosial dan Tujuan
Berdasarkan kekerabatan sosial dan tujuan, kelompok sosial sanggup dibedakan menjadi kelompok primer dan kelompok sekunder.
1. Kelompok primer (primary group) ialah kelompok-kelompok yang saling mengenal anggotanya, serta terdapat kolaborasi yang bersifat pribadi. Contoh kelompok primer ialah keluarga, kelompok sepermainan, dan rukun tetangga. Jadi, kelompok primer merupakan suatu kelompok di mana orang sanggup mengenal orang lain secara pribadi dan akrab.
Hal tersebut dilakukan melalui kekerabatan yang bersifat informal, akrab, personal, spontan, sentimental, dan eksklusif. Syarat-syarat kelompok primer ialah sebagai berikut.
a) Anggota kelompok secara fisik saling berdekatan dan terdapat interaksi yang intensif.
b) Kelompok tersebut merupakan kelompok kecil, sehingga tiap individu relatif gampang untuk berinteraksi secara langsung.
c) Terdapat kekerabatan yang langgeng antaranggota yang bersangkutan, biasanya ada kekerabatan darah, kekerabatan, ataupun pertemanan.
2. Kelompok sekunder (secondary group) ialah kelompok-kelompok besar yang terdiri dari banyak orang, hubungannya tidak harus saling mengenal secara pribadi, kurang akrab, dan sifatnya tidak begitu langgeng sebab mereka berkumpul berdasarkan kepentingan yang sama. Contoh kelompok sekunder antara lain terdapat pada orang-orang yang melaksanakan kekerabatan kontrak (jual-beli) yang melibatkan munculnya hak dan kewajiban dari masing-masing pihak. Hubungan ini sangat rentan terhadap konflik, terutama jikalau salah satu pihak melanggar hak-haknya.
Dalam konteks Indonesia, kelompok primer dan kelompok sekunder tercermin dalam paguyuban dan patembayan.
1. Paguyuban merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya mempunyai kekerabatan batin yang kuat, bersifat alamiah, serta bersifat kekal. Contohnya, kekerabatan yang terdapat dalam keluarga, kelompok kekerabatan dan kekerabatan dengan tetangga pada masyarakat tradisional atau pada masyarakat pedesaan. Menurut Tonnies, paguyuban mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
a) Intim, yaitu kekerabatan menyeluruh yang mesra.
b) Privat, yaitu kekerabatan yang bersifat pribadi, khusus untuk beberapa orang saja.
c) Eksklusif, kekerabatan tersebut hanya untuk kelompoknya sendiri dan bukan untuk orang luar.
Paguyuban sanggup dibedakan atas 3 tipe, sebagai berikut.
a) Paguyuban sebab ikatan darah atau keturunan. Contohnya, keluarga dan kelompok kekerabatan.
b) Paguyuban sebab daerah tinggal, yaitu suatu paguyuban yang terdiri dari orang-orang yang berdekatan daerah tinggalnya sehingga sanggup saling tolong-menolong. Contohnya, rukun tetangga, rukun warga, dan kelompok arisan.
c) Paguyuban sebab jiwa dan pikiran, yaitu paguyuban yang anggotanya mempunyai jiwa dan pikiran dan ideologi yang sama.
2. Patembayan merupakan bentuk kehidupan bersama di mana di antara anggotanya terdapat ikatan lahir yang bersifat pokok dalam jangka waktu yang relatif pendek. Strukturnya bersifat mekanis menyerupai mesin yang setiap komponennya mempunyai fungsi atau kegunaan. Hal ini terjadi sebab dalam masyarakat patembayan yang diutamakan ialah berlangsungnya suatu kekerabatan perjanjian atau kontrak yang mempunyai tujuan tertentu dan bersifat rasional. Masyarakat patembayan bersifat sementara. Contoh patembayan ialah kekerabatan dalam dunia industri atau organisasi politik.
Komentar
Posting Komentar