Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Tugas Nilai Dan Norma Sosial Dalam Sosialisasi
Diri seseorang merupakan produk sosial dari hasil interaksinya dengan orang lain. Dalam interaksi tersebut, ia mengalami proses sosialisasi. Sejak ia lahir, ia telah mengalami proses sosialisasi. Artinya, semenjak lahir seseorang melaksanakan proses berguru perihal bagaimana bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan norma-norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat melalui refleksi terhadap orang lain. Dengan demikian, nilai dan norma-norma sosial tersebut telah menjadi pecahan dari dirinya. Ia akan selalu berperilaku atau bertindak sesuai dengan nilai dan norma-norma tersebut.
Meskipun nilai dan norma sosial merupakan isi yang dipelajari seseorang untuk membentuk dirinya, nilai dan norma sosial juga menjadi penentu bagaimana contoh sosialisasi akan berlangsung dalam diri seseorang. Contohnya, nilai dan norma sosial dalam masyarakat feodal menuntut seseorang untuk tunduk dan patuh kepada orang yang lebih tua. Dengan demikian, dalam masyarakat ini contoh sosialisasi yang dialami si anak cenderung represif (dipaksakan). Oleh sebab itu, proses berguru anak ialah pasif di mana anak dipaksa untuk mendapatkan nilai dan norma. Sementara dalam masyarakat yang demokratis, nilai dan norma sosial yang berlaku ialah kesamaan derajat. Pola sosialisasi yang berlangsung di dalam masyarakat ini pun cenderung partisipatoris di mana anak berperan aktif untuk berguru membentuk diri, sesuai dengan refleksi dirinya terhadap orang-orang di sekitarnya.
Pada dasarnya, tidak ada seorang insan pun yang tidak melaksanakan proses sosialisasi dalam hidupnya. Manusia hidup dari dan dalam masyarakat. Melalui proses sosialisasi, seseorang menjadi tahu bagaimana ia harus berperilaku di tengah-tengah masyarakat. Proses sosialisasi juga sanggup mewarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Akhirnya, ia akan terampil dan berilmu dalam hidup bermasyarakat. Proses sosialisasi ini berlangsung seumur hidup selama insan masih bisa dan mau meningkatkan kemampuannya untuk menjadi insan yang lebih mempunyai kegunaan bagi masyarakatnya. Namun demikian, dalam beberapa perkara terdapat individu-individu yang tidak mempunyai kesempatan untuk bersosialisasi dengan baik. Contoh perkara individu yang tidak menerima sosialisasi ialah Anna, Isabelle, dan Genie.
1. Kingsley Davis mengisahkan Anna dan Isabelle yang semenjak bayi hingga berumur 5 tahun, dikurung oleh kakek dan ibunya yang bisu tuli. Saat ditemukan, kedua gadis ini tidak sanggup berbicara, berjalan, atau mandi sendiri. Mereka bersikap apatis dan hirau tak hirau terhadap lingkungan sekitar mereka. Anna karenanya meninggal empat tahun kemudian sebab hilangnya semangat hidup. Ia hanya bisa mempelajari beberapa kata dan kalimat, beberapa aspek kehidupan sosial, dan beberapa petunjuk ringan. Isabelle sesudah dua tahun dirawat secara intensif, karenanya bisa hidup secara normal dan mulai sekolah.
2. Curtiss dan Pines mengisahkan seorang gadis berusia 1.3 tahun yang berjulukan Genie. Dia disekap ayahnya di dalam gudang gelap semenjak umur 2 tahun. Kondisi awal dikala ditemukan sama dengan yang dialami Anna dan Isabelle. Walaupun mengalami kemajuan sesudah dirawat secara intensif, ia tidak berkembang hingga tahap yang seharusnya dialami bawah umur seusianya.
Dari perkara tersebut tergambarkan betapa pentingnya sosialisasi bagi manusia. Tanpa sosialisasi, kemampuan akal, emosi, dan jiwa seseorang tidak sanggup berkembang sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakatnya. Anak-anak yang kurang mengalami proses sosialisasi secara masuk akal akan berperilaku berbeda dari anak lainnya, menyerupai yang dialami Anna, Isabelle, dan Genie. Bahkan, anak tersebut takut bertemu dengan orang lain. Meskipun anak tersebut kemudian diberi sosialisasi, ternyata hasilnya tetap ketinggalan dibandingkan dengan anak lain yang usianya sebaya.
Meskipun nilai dan norma sosial merupakan isi yang dipelajari seseorang untuk membentuk dirinya, nilai dan norma sosial juga menjadi penentu bagaimana contoh sosialisasi akan berlangsung dalam diri seseorang. Contohnya, nilai dan norma sosial dalam masyarakat feodal menuntut seseorang untuk tunduk dan patuh kepada orang yang lebih tua. Dengan demikian, dalam masyarakat ini contoh sosialisasi yang dialami si anak cenderung represif (dipaksakan). Oleh sebab itu, proses berguru anak ialah pasif di mana anak dipaksa untuk mendapatkan nilai dan norma. Sementara dalam masyarakat yang demokratis, nilai dan norma sosial yang berlaku ialah kesamaan derajat. Pola sosialisasi yang berlangsung di dalam masyarakat ini pun cenderung partisipatoris di mana anak berperan aktif untuk berguru membentuk diri, sesuai dengan refleksi dirinya terhadap orang-orang di sekitarnya.
Pada dasarnya, tidak ada seorang insan pun yang tidak melaksanakan proses sosialisasi dalam hidupnya. Manusia hidup dari dan dalam masyarakat. Melalui proses sosialisasi, seseorang menjadi tahu bagaimana ia harus berperilaku di tengah-tengah masyarakat. Proses sosialisasi juga sanggup mewarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Akhirnya, ia akan terampil dan berilmu dalam hidup bermasyarakat. Proses sosialisasi ini berlangsung seumur hidup selama insan masih bisa dan mau meningkatkan kemampuannya untuk menjadi insan yang lebih mempunyai kegunaan bagi masyarakatnya. Namun demikian, dalam beberapa perkara terdapat individu-individu yang tidak mempunyai kesempatan untuk bersosialisasi dengan baik. Contoh perkara individu yang tidak menerima sosialisasi ialah Anna, Isabelle, dan Genie.
1. Kingsley Davis mengisahkan Anna dan Isabelle yang semenjak bayi hingga berumur 5 tahun, dikurung oleh kakek dan ibunya yang bisu tuli. Saat ditemukan, kedua gadis ini tidak sanggup berbicara, berjalan, atau mandi sendiri. Mereka bersikap apatis dan hirau tak hirau terhadap lingkungan sekitar mereka. Anna karenanya meninggal empat tahun kemudian sebab hilangnya semangat hidup. Ia hanya bisa mempelajari beberapa kata dan kalimat, beberapa aspek kehidupan sosial, dan beberapa petunjuk ringan. Isabelle sesudah dua tahun dirawat secara intensif, karenanya bisa hidup secara normal dan mulai sekolah.
2. Curtiss dan Pines mengisahkan seorang gadis berusia 1.3 tahun yang berjulukan Genie. Dia disekap ayahnya di dalam gudang gelap semenjak umur 2 tahun. Kondisi awal dikala ditemukan sama dengan yang dialami Anna dan Isabelle. Walaupun mengalami kemajuan sesudah dirawat secara intensif, ia tidak berkembang hingga tahap yang seharusnya dialami bawah umur seusianya.
Dari perkara tersebut tergambarkan betapa pentingnya sosialisasi bagi manusia. Tanpa sosialisasi, kemampuan akal, emosi, dan jiwa seseorang tidak sanggup berkembang sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakatnya. Anak-anak yang kurang mengalami proses sosialisasi secara masuk akal akan berperilaku berbeda dari anak lainnya, menyerupai yang dialami Anna, Isabelle, dan Genie. Bahkan, anak tersebut takut bertemu dengan orang lain. Meskipun anak tersebut kemudian diberi sosialisasi, ternyata hasilnya tetap ketinggalan dibandingkan dengan anak lain yang usianya sebaya.
Komentar
Posting Komentar