Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Pengertian Pengendalian Sosial

Setiap masyarakat tentu mendambakan keadaan yang tenang, aman, dan teratur. Mereka tidak menginginkan situasi yang kacau dan tidak menentu. Namun, kondisi normatif tersebut tidak selalu sanggup terwujud secara utuh. Banyak penyimpangan terjadi di dalam masyarakat yang berawal dari ketidaksesuaian antara cita-cita dan kenyataan.

Di media massa, sering kita baca aneka macam macam sikap menyimpang, menyerupai tawuran pelajar, relasi seks pranikah, homoseksual, atau sekelompok cukup umur yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Perilaku-perilaku itu terang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Perilaku tersebut mengganggu keteraturan sosial (social order).

Untuk itulah diharapkan adanya suatu pengendalian sosial, yaitu upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang di dalam masyarakat. Kondisi seimbang terjadi kalau ada keserasian antara perubahan dan stabilitas yang ada di dalam masyarakat. Cara-cara yang dilakukan antara lain melalui persuasi dan koersi. Untuk itu, perlu ada pranata atau forum sosial yang berperan. Pranata-pranata itu antara lain polisi, pengadilan, adat, dan tokoh masyarakat. Pada kepingan ini, kita akan membahas pengendalian sosial secara lebih mendalam.

Telah kita pelajari bahwa dalam sebuah masyarakat terdapat norma-norma sosial yang mengatur sikap anggota masyarakat. Norma sosial ini tumbuh melalui proses sosialisasi. Di dalamnya ditentukan sikap yang diperbolehkan, yang tidak diperbolehkan, yang benar, dan yang salah. Tujuannya supaya tercipta sebuah keteraturan sosial. Dalam proses tersebut, tiap individu sebagai anggota masyarakat mendapatkan aturan-aturan dan nilai yang telah ada dalam masyarakat sebagai standar penentu perilaku.

Sebagai makhluk dinamis, setiap individu dalam masyarakat pun akan selalu berkembang. Individu-individu itu akan selalu berinteraksi dengan yang lainnya sehingga menghasilkan perubahan sosial, baik itu kemajuan maupun keinunduran. Perubahan-perubahan itu sanggup saja mengubah tatanan sosial yang sudah ada sehingga menimbulkan ketidakseimbangan sistem sosial. Contoh, terjadinya dekadensi budbahasa berupa seks bebas akhir ditemukannya aneka macam alat kontrasepsi. Kaum muda tidak lagi melihat seks sebagai suatu siklus reproduksi insan yang sakral, tetapi hanya sebagai sebuah rekreasi. Mereka tidak perlu khawatir pada kehamilan di luar nikah dikarenakan telah tersedia alat-alat kontrasepsi yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi. Perubahan-perubahan menyerupai ini terang mengganggu keseimbangan sosial dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma kesusilaan dan nilai-nilai luhur sebuah perkawinan.

Meskipun demikian, masyarakat intinya akan selalu membutuhkan keteraturan sosial. Oleh sebab itu, pada satu tahap tertentu, masyarakat akan sanggup mengembalikan keadaan menjadi seimbang lagi. Masyarakat akan selalu berupaya untuk mencegah, mengurangi, maupun menghilangkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sehingga terwujud kembali keseimbangan sosial (social equllibrium). Upaya-upaya itu disebut juga dengan pengendalian sosial (social control). Dengan demikian, pengendalian sosial merupakan prosedur untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan mengarahkan anggota masyarakat untuk bertindak berdasarkan norma dan nilai yang telah melembaga.

Menurut Berger pengendalian sosial yaitu aneka macam cara yang dipakai masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang membangkang. Sementara itu, Roucek mengemukakan bahwa pengendalian sosial yaitu suatu istilah kolektif yang mengacu pada proses terpola yang cenderung menganjurkan, membujuk, atau memaksa individu untuk mengikuti keadaan pada kebiasaan dan nilai hidup suatu kelompok. Roucek menyebutkan beberapa cara pemaksaan konformitas sikap antara lain melalui prosedur desas-desus, mengolok-olok, mengucilkan, dan menyakiti. Ahli-ahli lain juga mengemukakan beberapa cara dan teknik pengendalian sosial lain, contohnya ideologi, bahasa, seni, rekreasi, organisasi rahasia, cara-cara tanpa kekerasan, kekerasan dan teror, pengendalian ekonomi, dan perencanaan ekonomi dan sosial.

Para sosiolog memakai istilah pengendalian sosial untuk menggambarkan segenap cara dan proses yang ditempuh oleh sekelompok orang atau masyarakat yang bersangkutan. Banyak cara yang dipakai untuk memaksa individu supaya taat pada sejumlah peraturan. Contoh, kumpul kebo bagi masyarakat desa sangat tabu dan dianggap melanggar adat. Si pelaku yang ketahuan harus siap menghadapi resiko menyerupai digosipkan, dikucilkan, atau mungkin diarak keliling kampung. Mengapa demikian? Kumpul kebo merupakan malu di masyarakat yang tidak sanggup ditolerir. Bahkan, sanksinya sanggup lebih dari itu, menyerupai pengusiran dari kampung. Sanksi demikian sudah termasuk ke dalam pengendalian sosial, yakni berupa aturan adat.

Komentar