Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Pengertian Sosialisasi
Masih ingatkah Anda ketika pertama masuk Sekolah Menengan Atas atau MA? Tentu Anda menghadapi suasana yang berbeda dengan suasana ketika Anda masih duduk di dingklik Sekolah Menengah Pertama atau MTs. Contohnya, ketika di Sekolah Menengah Pertama atau MTs, Anda ke sekolah mengenakan pakaian seragam berwarna biru putih, sedangkan kini harus berwarna abu-abu putih. Demikian juga, siswa prianya kini harus memakai celana panjang.
Selain itu, tentu banyak hal lain yang perlu Anda pelajari. Di antaranya, kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma yang berlaku bagi siswa Sekolah Menengan Atas atau MA. Oleh lantaran itu, di beberapa Sekolah Menengan Atas atau MA dilakukan sebuah proses atau acara yang disebut orientasi pengenalan sekolah. Umumnya, acara itu dilakukan selama tiga hari atau seminggu. Dalam acara tersebut, siswa-siswa gres dikenalkan dengan aneka macam aturan, norma, nilai, dan kebiasaan yang berlaku di sekolah, menyerupai bagaimana cara menjaga kebersihan dan keindahan sekolah, dan bagaimana cara menjaga gambaran sekolah.
Sama menyerupai siswa sekolah, karyawan gres pun mengikuti masa orientasi yang dikenal sebagai training. Dalam masa tersebut, ia akan mempelajari cara-cara atau hukum yang berlaku di perusahaan tersebut. Proses-proses menyerupai ini sering disebut dengan istilah sosialisasi. Pada bab berikut ini, kita akan mempelajari sosialisasi lebih mendalam. Ikutilah uraian berikut!
Anda tentu pernah memperhatikan hewan peliharaan, menyerupai kucing, ayam, atau burung. Binatang-binatang ini mencari makan dan mengasuh anaknya dengan cara-cara yang berbeda, namun relatif sama dengan sesama jenisnya. Cara mengasuh anak seekor kucing tentu relatif sama dengan kucing lainnya. Demikian pula dengan ayam atau burung. Namun demikian, sikap binatang-binatang ini tidak didasarkan pada kehendak bebas tetapi didasarkan pada nalurinya. Contoh, seekor kucing memelihara anaknya bukan lantaran kesadaran untuk meneruskan keturunannya, tetapi lantaran secara alamiah kucing tersebut mempunyai anak.
Berbeda dengan binatang, insan harus memutuskan sendiri apa yang dilakukannya. Keputusan itu tentu didasarkan pada rasionalitasnya bahwa suatu hal harus dilakukan lantaran baik bagi dirinya dan hal lain tidak dilakukan lantaran tidak baik bagi dirinya atau orang lain. Contoh, seorang siswa berguru dengan ulet lantaran ia sadar hal itu baik dan mempunyai kegunaan bagi masa depannya.
Karena dilihat dan dirasakan baik (memiliki nilai tertentu yang dirasa baik), keputusan ini lalu menjadi kebiasaan yang diikuti oleh individu-individu lain. Kebiasaan-kebiasaan ini lalu ditegakkan menjadi bab dari kebudayaan kelompok atau masyarakat tersebut. Contoh, keputusan untuk menuntut ilmu dilihat dan dirasa baik serta mempunyai kegunaan bagi seseorang sehingga diikuti oleh banyak orang. Keputusan ini lalu menjadi kebiasaan dan kebudayaan bagi kelompok atau masyarakat tersebut. Hal ini dilihat dari kebiasaan masyarakat tersebut untuk menyekolahkan anaknya ketika telah cukup umur.
Namun demikian, kebiasaan suatu kelompok insan sanggup berbeda dengan kelompok lain. Kebiasaan-kebiasaan yang berbeda tersebut meliputi bidang ekonomi, kekeluargaan (kekerabatan), pendidikan, agama, dan politik. Oleh lantaran itu, sering kita jumpai keanekaragaman kebiasaan dalam kelompok-kelompok masyarakat. Contoh, kelompok yang satu mempunyai kebiasaan mendapatkan sesuatu dengan cara yang berbeda dengan kelompok yang lain. Ada yang memakai tangan kiri atau kanan sama sopannya. Ada pula yang menentukan hanya memakai ajudan semoga lebih sopan.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut umumnya berusaha ditanamkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Tujuannya ialah semoga anggota kelompok atau masyarakat dari generasi berikut sanggup bersikap dan berperilaku sesuai dengan kebiasaan (nilai dan aturan) yang dianut kelompok atau masyarakat tersebut.
Penanaman atau proses berguru anggota kelompok atau masyarakat wacana kebiasaan-kebiasaan di dalam kelompok atau masyarakatnya dalam sosiologi disebut sosialisasi. Sosialisasi ialah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan hukum dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Lalu apa kata para jago wacana osialisasi?
1. Menurut Peter L. Berger, sosialisasi ialah proses berguru seorang anak untuk menjadi anggota yang sanggup berpartisipasi di dalam masyarakat.
2. Menurut David Gaslin, sosialisasi ialah proses berguru yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan wacana nilai dan norma-norma semoga ia sanggup berpartisipasi sebagai anggota kelompok masyarakat.
Menurut Berger dan sejumlah tokoh sosiologi, yang dipelajari dalam proses sosialisasi ialah peran-peran. Bagaimana seseorang berperan sesuai dengan nilai, kebiasaan, dan norma yang berlaku dan ditransfer dari masyarakat atau kelompoknya. Sementara beberapa tokoh lain menyerupai Gaslin mengemukakan bahwa yang dipelajari dalam proses sosialisasi ialah nilai dan norma sosial. Oleh alasannya ialah itu, teori sosialisasi dari sejumlah tokoh sosiologi merupakan teori mengenai tugas (role theory).
Selain itu, tentu banyak hal lain yang perlu Anda pelajari. Di antaranya, kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma yang berlaku bagi siswa Sekolah Menengan Atas atau MA. Oleh lantaran itu, di beberapa Sekolah Menengan Atas atau MA dilakukan sebuah proses atau acara yang disebut orientasi pengenalan sekolah. Umumnya, acara itu dilakukan selama tiga hari atau seminggu. Dalam acara tersebut, siswa-siswa gres dikenalkan dengan aneka macam aturan, norma, nilai, dan kebiasaan yang berlaku di sekolah, menyerupai bagaimana cara menjaga kebersihan dan keindahan sekolah, dan bagaimana cara menjaga gambaran sekolah.
Sama menyerupai siswa sekolah, karyawan gres pun mengikuti masa orientasi yang dikenal sebagai training. Dalam masa tersebut, ia akan mempelajari cara-cara atau hukum yang berlaku di perusahaan tersebut. Proses-proses menyerupai ini sering disebut dengan istilah sosialisasi. Pada bab berikut ini, kita akan mempelajari sosialisasi lebih mendalam. Ikutilah uraian berikut!
Anda tentu pernah memperhatikan hewan peliharaan, menyerupai kucing, ayam, atau burung. Binatang-binatang ini mencari makan dan mengasuh anaknya dengan cara-cara yang berbeda, namun relatif sama dengan sesama jenisnya. Cara mengasuh anak seekor kucing tentu relatif sama dengan kucing lainnya. Demikian pula dengan ayam atau burung. Namun demikian, sikap binatang-binatang ini tidak didasarkan pada kehendak bebas tetapi didasarkan pada nalurinya. Contoh, seekor kucing memelihara anaknya bukan lantaran kesadaran untuk meneruskan keturunannya, tetapi lantaran secara alamiah kucing tersebut mempunyai anak.
Berbeda dengan binatang, insan harus memutuskan sendiri apa yang dilakukannya. Keputusan itu tentu didasarkan pada rasionalitasnya bahwa suatu hal harus dilakukan lantaran baik bagi dirinya dan hal lain tidak dilakukan lantaran tidak baik bagi dirinya atau orang lain. Contoh, seorang siswa berguru dengan ulet lantaran ia sadar hal itu baik dan mempunyai kegunaan bagi masa depannya.
Karena dilihat dan dirasakan baik (memiliki nilai tertentu yang dirasa baik), keputusan ini lalu menjadi kebiasaan yang diikuti oleh individu-individu lain. Kebiasaan-kebiasaan ini lalu ditegakkan menjadi bab dari kebudayaan kelompok atau masyarakat tersebut. Contoh, keputusan untuk menuntut ilmu dilihat dan dirasa baik serta mempunyai kegunaan bagi seseorang sehingga diikuti oleh banyak orang. Keputusan ini lalu menjadi kebiasaan dan kebudayaan bagi kelompok atau masyarakat tersebut. Hal ini dilihat dari kebiasaan masyarakat tersebut untuk menyekolahkan anaknya ketika telah cukup umur.
Namun demikian, kebiasaan suatu kelompok insan sanggup berbeda dengan kelompok lain. Kebiasaan-kebiasaan yang berbeda tersebut meliputi bidang ekonomi, kekeluargaan (kekerabatan), pendidikan, agama, dan politik. Oleh lantaran itu, sering kita jumpai keanekaragaman kebiasaan dalam kelompok-kelompok masyarakat. Contoh, kelompok yang satu mempunyai kebiasaan mendapatkan sesuatu dengan cara yang berbeda dengan kelompok yang lain. Ada yang memakai tangan kiri atau kanan sama sopannya. Ada pula yang menentukan hanya memakai ajudan semoga lebih sopan.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut umumnya berusaha ditanamkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Tujuannya ialah semoga anggota kelompok atau masyarakat dari generasi berikut sanggup bersikap dan berperilaku sesuai dengan kebiasaan (nilai dan aturan) yang dianut kelompok atau masyarakat tersebut.
Penanaman atau proses berguru anggota kelompok atau masyarakat wacana kebiasaan-kebiasaan di dalam kelompok atau masyarakatnya dalam sosiologi disebut sosialisasi. Sosialisasi ialah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan hukum dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Lalu apa kata para jago wacana osialisasi?
1. Menurut Peter L. Berger, sosialisasi ialah proses berguru seorang anak untuk menjadi anggota yang sanggup berpartisipasi di dalam masyarakat.
2. Menurut David Gaslin, sosialisasi ialah proses berguru yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan wacana nilai dan norma-norma semoga ia sanggup berpartisipasi sebagai anggota kelompok masyarakat.
Menurut Berger dan sejumlah tokoh sosiologi, yang dipelajari dalam proses sosialisasi ialah peran-peran. Bagaimana seseorang berperan sesuai dengan nilai, kebiasaan, dan norma yang berlaku dan ditransfer dari masyarakat atau kelompoknya. Sementara beberapa tokoh lain menyerupai Gaslin mengemukakan bahwa yang dipelajari dalam proses sosialisasi ialah nilai dan norma sosial. Oleh alasannya ialah itu, teori sosialisasi dari sejumlah tokoh sosiologi merupakan teori mengenai tugas (role theory).
Komentar
Posting Komentar