Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Sumber Penyimpangan Berdasarkan Para Ahli

Sumber penyimpangan berdasarkan para ahli
Edward H. Sutherland
Sutherland mengemukakan sebuah teori yang dinamakannya differential association. Menurutnya, penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda. Penyimpangan dipelajari melalui proses alih budaya (cultural transmission). Melalui proses berguru ini, seseorang mempelajari suatu budaya menyimpang. Misalnya, menghisap ganja pada suatu kelompok remaja.

Edwin M. Lemert
Lemert menamakan teorinya labelling theory. Menurutnya, seseorang menjadi penyimpang lantaran adanya proses labelling (pemberian julukan, cap, etiket, atau merek) yang diberikan masyarakat kepadanya. Proses labelling ini sanggup membuat seseorang yang tadinya tidak mempunyai kebiasaan menyimpang menjadi terbiasa. Bahkan, kebiasaan itu kemudian menjadi gaya hidupnya. Contoh, seorang siswa yang absen sekolah satu kali dicap pembolos oleh seorang guru. Julukan dari guru ini terdengar oleh teman-temannya. Sejak ketika itu, julukan pembolos menempel pada dirinya.

Karena terus menerus mendengar julukan pembolos, ia malah mengulangi perbuatan itu terus menerus.
Lebih jauh Lemert membagi sikap menyimpang ke dalam dua bentuk.
1. Penyimpangan primer (primary deviation), yaitu perbuatan menyimpang yang dilakukan seseorang namun sang pelaku masih sanggup diterima secara sosial. Ciri penyimpangan primer yaitu sifatnya sementara, tidak berulang, dan sanggup ditolerir masyarakat. Contohnya, mengendarai motor atau kendaraan beroda empat melebihi kecepatan yang normal (kebut-kebutan).

2. Penyimpangan sekunder (secondary deviation), yaitu perbuatan yang dilakukan seseorang yang secara umum dikenal sebagai perbuatan atau sikap menyimpang. Contoh, memerkosa, membunuh, merampok, mabuk-mabukan, menggunakan obat terlarang, berjudi, dan melacur. Penyimpangan demikian sanggup dilakukan secara individu maupun kelompok. Masyarakat pada umumnya tidak sanggup mendapatkan dan tidak menginginkan orang-orang semacam ini berada dalam lingkungannya.

Robert K. Merton
Berbeda dengan Sutherland dan Lemert yang melihat sikap menyimpang dari kajian interaksi sosial (mikro), Merton melihat sikap menyimpang dari sudut pandang yang lebih luas (makro). Merton melihatnya dari sudut struktur sosial. Menurutnya, Struktur sosial tidak hanya menghasilkan sikap yang konformis, tapi juga sikap yang menyimpang. Struktur sosial menghasilkan pelanggaran terhadap aturan sosial dan menekan orang tertentu ke arah sikap yang nonkonform (tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat).

Dalam struktur sosial dan budaya, ada tujuan atau target budaya yang disepakati oleh anggota masyarakat. Tujuan budaya yaitu sesuatu yang "pantas diraih". Untuk mencapai tujuan tersebut, struktur sosial dan budaya mengatur cara yang harus ditempuh dan aturan ini bersifat membatasi. Merton menyatakan bahwa sikap menyimpang terjadi lantaran tidak adanya kaitan antara tujuan dengan cara yang telah ditetapkan dan dibenarkan oleh struktur sosial.

Lebih jauh Merton mengidentifikasikan lima tipe cara pembiasaan individu terhadap situasi tertentu. Empat di antara lima tipe itu merupakan sikap menyimpang.
1. Cara pembiasaan konformitas (conformity)
Pada cara pembiasaan ini, sikap seseorang mengikuti cara dan tujuan yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Contoh, seorang siswa ingin mendapatkan gelar sarjana (tujuan yang ditetapkan masyarakat). Tujuan itu ia capai dengan memasuki akademi tinggi, baik negeri maupun swasta (cara yang tersedia dalam masyarakat).

2. Cara pembiasaan penemuan (innovation)
Pada cara pembiasaan ini, sikap seseorang mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat. Akan tetapi ia menggunakan cara yang dihentikan oleh masyarakat. Contoh, seorang siswa yang ingin mendapatkan nilai matematika manis melaksanakan banyak sekali cara, ibarat mencontek ketika ujian. Nilai manis merupakan tujuan yang ditentukan oleh masyarakat, sedangkan mencontek merupakan cara yang tidak dibenarkan oleh masyarakat.

3. Cara pembiasaan ritualisme (ritualism)
Pada cara pembiasaan ini, sikap seseorang telah meninggalkan tujuan budaya, tetapi tetap berpegang pada cara yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Contoh, seorang karyawan dari kalangan menengah ke bawah tidak ingin naik jabatan. Ia tidak mau berharap alasannya yaitu takut gagal. Tujuan budaya yang sudah ada di masyarakat (mencapai kesuksesan) tidak dikejar oleh karyawan itu, tetapi cara mencapai tujuan budaya tetap ia lakukan, yaitu dengan bekerja (bekerja yaitu salah satu cara yang ditetapkan masyarakat untuk mencapai kesuksesan).

4. Cara pembiasaan retreatisme (retreatism)
Bentuk pembiasaan ini, sikap seseorang tidak mengikuti tujuan dan cara yang dikehendaki. Pola pembiasaan ini berdasarkan Merton sanggup dilihat pada orang yang mengalami gangguan jiwa, gelandangan, pemabuk, dan pada pecandu obat bius. Orang-orang itu ada di dalam masyarakat, tetapi dianggap tidak menjadi bab dari masyarakat.

5. Cara pembiasaan pemberontakan (rebellion)
Pada bentuk pembiasaan terakhir ini orang tidak lagi mengakui struktur sosial yang ada dan berupaya membuat struktur sosial yang baru. Tujuan budaya yang ada dianggap sebagai penghalang bagi tujuan yang didambakan. Demikian pula dengan cara yang ada untuk mencapai tujuan tersebut tidak diakui. Contoh, pada tahun 1998 demonstrasi mahasiswa dari seluruh Indonesia berhasil menurunkan Soeharto dan rezim Orde Baru kemudian menggantinya dengan rezim Orde Reformasi. Orde Baru merupakan struktur sosial yang ditolak oleh mahasiswa, sedangkan Orde Reformasi merupakan struktur sosial yang didambakan. Cara mengganti kepemimpinan yang tersedia di dalam masyarakat kita yaitu melalui sidang MPR, tapi cara ini ditolak oleh para mahasiswa. Mereka menentukan menggunakan cara demonstrasi untuk mengganti kepemimpinan Soeharto dan Orde Baru.

Dari keseluruhan tipe-tipe yang disebutkan di atas, tipe pembiasaan yang pertama (adaptasi konformitas) merupakan bentuk sikap yang tidak menyimpang. Sementara empat tipe selanjutnya merupakan bentuk sikap yang menyimpang.

Emile Durkheim
Menurut Emile Durkheim, keseragaman semua anggota masyarakat perihal kesadaran moral tidak dimungkinkan. Tiap individu berbeda satu dengan yang lain lantaran dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Di antaranya faktor keturunan, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial. Dengan demikian, orang yang berwatak jahat akan selalu ada, dan kejahatan pun akan selalu ada. Durkheim bahkan berpandangan bahwa kejahatan perlu bagi masyarakat lantaran dengan adanya kejahatan maka moralitas dan aturan sanggup berkembang secara normal.

Karl Marx
Teori Marx dikenal dengan sebutan teori konflik. Menurut Marx, apa yang disebut dengan sikap menyimpang merupakan sikap yang didefinisikan atau dibuat oleh pihak yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Menurutnya, aturan merupakan cerminan kepentingan pihak yang berkuasa dan pengadilan hanya menguntungkan pihak tersebut.

David Berry
Berry mengungkapkan hal yang sedikit berbeda. Menurutnya, yaitu keliru jikalau kita melihat penyimpangan semata-mata lantaran ketidakpatuhan terhadap nilai dan norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Penyimpangan bukan hanya lantaran seseorang gagal mengikuti keadaan dengan standar nilai dan norma tertentu, tapi juga lantaran orang itu menentukan standar nilai dan norma bagi dirinya sendiri yang berbeda dengan standar orang lain. Contohnya, seorang cukup umur yang tadinya berada di dalam suatu kelompok cukup umur kebanyakan, menentukan memisahkan diri dan masuk ke kelompok punk yang mempunyai standar nilai dan norma yang berbeda dengan kelompok sebelumnya. Ia mengenakan atribut punk ibarat model rambut atau pakaian yang berbeda dengan kelompok pertama.

Meskipun sosiologi tidak memusatkan perhatian pada kaitan fisik dan perilaku, tetapi ada beberapa tokoh yang menghubungkan sikap menyimpang dengan ciri-ciri fisik. Contoh, pada kasus bencong di mana masyarakat menganggapnya sebagai orang yang menyimpang.

Komentar