Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Bentuk Pertanian Di Indonesia

Secara umum, bentuk pertanian di Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu pertanian lahan berair dan lahan kering. Pertanian lahan berair (pertanian sawah) dibudidayakan secara monokultur dan tumpang sari. Dalam budidaya monokultur, lahan persawahan hanya dimanfaatkan untuk satu jenis tanaman, yaitu padi. Pada sistem tumpang sari, biasanya sebidang lahan dimanfaatkan untuk tumbuhan lain selain padi, contohnya palawija dan sayuran.

Pertanian lahan kering ialah jenis budidaya pertanian yang memanfaatkan sumber daya air relatif sedikit. Sistem budidaya lahan kering mencakup tegalan, ladang, hortikultura, kebun, dan perkebunan.

a. Sawah
Di daerah dengan sistem pengairan yang baik, padi sawah sanggup dipanen tiga kali setahun, terutama bila memakai bibit unggul. Di daerah dengan sistem pengairan yang kurang baik, padi hanya sanggup dipanen sekali setahun. Sesudah panen, sawah ditanami palawija, contohnya kacang tanah, jagung, kedelai, dan umbi-umbian.

Bentuk pertanian sawah yang biasa dibudidayakan di Indonesia dibedakan menjadi empat jenis, yaitu sawah tadah hujan, sawah pasang surut, sawah lebak, dan sawah irigasi.

Sawah tadah hujan ialah sawah yang pengairannya mengandalkan air hujan. Sawah pasang surut ialah sawah yang memperoleh air dari sungai-sungai besar yang bermuara ke laut. Ketika air maritim pasang naik, sawah di bersahabat muara tergenang air sungai sebab sungai tidak sanggup mengalirkan airnya ke laut. Ketika surut dan air sungai mengalir kembali ke laut, tanah sawah masih bencah oleh endapan lumpur. Ketika ekspresi dominan kemarau, tanah berlumpur itu mulai ditanami. Menjelang ekspresi dominan hujan padi telah tumbuh tinggi sehingga ketika permukaan air naik kembali, pecahan atas padi (buah padi) tidak terendam air dan sanggup diketam dari atas rakit atau perahu. Pertanian sawah pasang surut sanggup kau jumpai di daerah Sumatra Selatan, Riau, Jambi, dan Kalimantan Selatan. Jenis padi yang ditanam di sawah pasang surut ialah padi banarawa.

Sawah lebak, ialah jenis pertanian padi sawah yang memanfaatkan lahan berupa lumpur endapan di kiri dan kanan sungai yang tidak tergenang anutan air sungai. Pertanian sawah lebak biasanya hanya sanggup dipanen satu kali dalam setahun, yaitu pada ekspresi dominan kemarau.

Sistem pertanian padi sawah yang paling baik ialah memanfaatkan irigasi untuk pengairannya. Sistem pengaturan tata air ke seluruh lahan pertanian akan tertata baik, mulai dari sumber pengairan (bendungan/ waduk) hingga ke saluran-saluran tersier. Sawah irigasi yang baik sanggup kau jumpai di daerah jalur pantura (pantai utara Pulau Jawa). Di Pulau Bali kau mengenal sistem irigasi sawah ini dengan nama subak.

b. Tegalan
Tanah tegalan terdapat di daerah yang mengandalkan curah hujan. Jenis tumbuhan yang dibudidayakan ialah tumbuhan palawija semusim, contohnya singkong, jagung, dan jenis kacang-kacangan.

c. Ladang
Perladangan merupakan jenis pertanian lahan kering yang memanfaatkan tanah dengan budidaya tumbuhan padi (tanaman pangan) selain palawija. Jenis padi yang diupayakan ialah padi gogo. Di Jawa Barat, ladang dikenal dengan istilah-huma.

Sistem pertanian ladang banyak dilakukan di luar Pulau Jawa, contohnya di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Kegiatan pertanian ibarat ini dilakukan dengan cara membuka lahan hutan. Setelah dua hingga tiga kali panen, lahan tersebut akan berkurang kesuburannya. Untuk meneruskan perladangan, mereka berpindah tempat membuka hutan gres dengan cara sama.

Kegiatan berladang dilakukan terus-menerus dengan perpindahan area pertanian yang, terus-menerus pula. Pada suatu ketika peladang akan kembali ke lahan pertama, yang kondisinya sudah menjadi hutan kembali. Pertanian ladang berpindah penghasilannya sedikit, dan sangat merugikan pelestarian hutan. Oleh sebab itu, pemerintah berusaha untuk memukimkan para peladang berpindah. Contoh kegiatan perladangan tradisional dilakukan masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak (Banten).

d. Kebun
Secara sederhana, berkebun sanggup dilaksanakan di pekarangan rumah. Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan lahan kosong dan menambah pendapatan. Di pedesaan, lahan pertanian kebun umumnya cukup luas. Lahan ditanami tumbuhan bersifat komersial, baik untuk komoditas ekspor maupun untuk dijual di dalam negeri, contohnya karet dan cokelat.

Untuk mempertinggi kesejahteraan petani tumbuhan komersial ini, pemerintah telah melaksanakan aneka macam usaha, antara lain melalui perkebunan inti rakyat (PIR). PIR diwujudkan dalam kegiatan ekspansi lahan pertanian dengan menyatukan perjuangan pertanian yang lahannya sempit.

e. Hortikultura
Hortikultura merupakan pecahan pertanian lahan kering. Jenis tumbuhan yang biasa diupayakan, antara lain sayur-sayuran, buah-buahan, atau bunga-bungaan. Beberapa tujuan kegiatan hortikultura ialah
1) meningkatkan hasil pertanian;
2) mengurangi resiko gagal panen;
3) menjaga kesuburan tanah.

Indonesia sangat kaya dengan aneka macam jenis tumbuhan hortikultura. Beberapa pola jenis tumbuhan hortikultura adalah
1) kelompok sayuran, contohnya kubis, wortel, tomat, mentimun, dan kol;
2) kelompok buah-buahan, contohnya mangga, nanas, durian, jambu, dan apel;
3) kelompok bunga-bungaan, contohnya mawar, aster, dahlia, dan anggrek.

Tanaman hortikultura banyak diupayakan penduduk yang tinggal di daerah dataran tinggi sebab suhu udaranya relatif sejuk, yaitu di ketinggian 500-1.500 meter di atas permukaan laut. Daerah persebaran pertanian hortikultura di Indonesia, antara lain daerah Lembang, Pangalengan, Puncak (Jawa Barat), Wonosobo, sekitar Dieng (Jawa Tengah), Malang (Jawa Timur), dan Tanah Karo (Sumatra Utara).

f. Perkebunan
Bentuk lain pemanfaatan lahan kering, ialah perkebunan, baik dibudidayakan secara sederhana oleh masyarakat maupun dikelola oleh pemerintah atau swasta secara besar-besaran. Jenis tumbuhan yang diupayakan sangat bermacam-macam di tiap-tiap daerah. Hal ini sangat bergantung pada syarat-syarat kecocokan lingkungan hidup tumbuhan tersebut, contohnya suhu, ketinggian tempat, dan jenis tanah.

Di daerah pantai yang mempunyai rata-rata suhu harian tinggi banyak kau jumpai daerah perkebunan kelapa dan kelapa sawit. Di daerah dataran rendah hingga ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan maritim sangat baik untuk dijadikan area perkebunan kopi, tebu, dan karet. Wilayah yang mempunyai ketinggian 700-1.500 meter merupakan daerah yang sangat cocok untuk wilayah perkebunan teh dan tembakau.

Berdasar pada skala pengusahaannya, perkebunan sanggup dikelompokkan menjadi dua, yaitu perkebunan rakyat dan perkebunan besar.

1) Perkebunan rakyat
Perkebunan rakyat ialah jenis perkebunan yang diupayakan oleh penduduk dalam skala kecil dengan ciri-ciri
a) lahan yang diupayakan tidak terlalu luas dan terbatas pada lahan di sekitar tempat tinggal;
b) modal atau dana yang diinvestasikan kecil;
c) peralatan atau teknologi yang dipakai masih sederhana hingga tingkat menengah;
d) produksinya sebagian besar dipakai untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan rumah tangga.

2) Perkebunan besar
Perkebunan besar ialah perjuangan perkebunan secara besar-besaran dan intensif, baik dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Ciri perkebunan besar, antara lain
a) lahan yang dijadikan area perkebunan sangat luas;
b) dana yang diinvestasikan besar;
c) peralatan atau teknologi yang dipakai sudah modern;
d) melibatkan tenaga kerja dalam jumlah banyak;
e) produksi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor.

Komentar