Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Nilai Sosial

Anda tentu sudah sering mendengar kata "nilai" atau "norma" dalam masyarakat. Nilai dan norma sangat terkait dengan kehidupan kita sebagai mahkluk sosial. Ketika kita membantu orang lain, tolong-menolong kita sedang menerapkan nilai dan norma masyarakat. Namun, apa tolong-menolong nilai dan norma sosial itu? Apa kiprahnya dalam perilaku-perilaku individu sebagai anggota masyarakat?

Pernahkah Anda mendengar orang berkata: "Barang itu bermutu, berharga, dan bernilai?" Suatu barang dikatakan bermutu, berharga, serta bernilai apabila barang tersebut mempunyai kegunaan atau baik berdasarkan orang yang menilai. Sebagai contoh, uang dikatakan berharga lantaran dengan uang, orang sanggup mencukupi kebutuhan hidup, contohnya membeli makan, pakaian, dan rumah. Buku dikatakan berharga lantaran melalui buku, cakrawala berpikir insan sanggup dirangsang. Buku juga memperlihatkan banyak warta yang kita butuhkan. Pemikiran sanggup dikatakan bermutu lantaran anutan merupakan cetusan inspirasi yang sanggup mempengaruhi, bahkan mengubah dunia. Sebagai contoh, anutan mengenai kesatuan dan persatuan yang dicetuskan melalui Sumpah Pemuda sanggup membangkitkan kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia untuk berjuang memperoleh kemerdekaan.

Dalam ilmu sosiologi, nilai mengandung pengertian yang lebih luas. Nilai (value) dalam konteks sosiologi, berafiliasi dengan pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu kondisi sanggup terjadi di masyarakat. Sebagai contoh, mengapa orang tega memukul suporter sepakbola lawan hanya lantaran kesal tim kesayangannya kalah? Atau, mengapa orang rela mengorbankan nyawa untuk membela kepentingan rakyat miskin? Jawaban atas pertanyaan tersebut merujuk pada keinginan atau keinginan (luhur) yang ingin dicapai oleh orang atau masyarakat.

Penentuan wacana baik dan jelek atau benar dan salah, dilakukan melalui proses menimbang. Proses penimbangan tersebut tentu dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, tidak heran bila ada banyak perbedaan tata nilai antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, masyarakat yang tinggal di pedesaan lebih menghargai kegiatan yang mengandung nilai keselarasan, keharmonisan, kestabilan, dan kesabaran. Sementara itu, masyarakat kota lebih menghargai kegiatan yang mengandung nilai persaingan, perubahan, tantangan, bahkan konflik.

Perbedaan nilai ini juga sanggup kita lihat dari konteks perbedaan keyakinan atau agama, lingkungan sosial, dan lingkungan fisik (tempat). Contoh perbedaan tata nilai yang disebabkan oleh perbedaan kawasan ialah sistem patrilineal dalam masyarakat Batak dan sistem matrilineal dalam masyarakat Minang. Selain faktor tempat, perbedaan tata nilai juga sanggup terjadi lantaran perubahan waktu. Misalnya, tugas wanita dalam masyarakat di masa kemudian dan masa sekarang berbeda. Pada masa lalu, wanita hanya terbatas mengerjakan pekerjaan rumah tangga saja. Tetapi pada masa kini, wanita sanggup berperan menjadi politikus, pengacara, guru, hebat biologi atau apapun sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing.

Komentar