Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Faktor-Faktor Pembentukan Kepribadian
Setiap orang mempunyai kepribadian. Hanya saja kepribadian orang yang satu berbeda dengan kepribadian orang yang lain. Hal ini dipengaruhi oleh faktor warisan biologis, lingkungan fisik, kebudayaan, pengalaman kelompok, dan pengalaman unik seseorang.
Warisan Biologis (Keturunan)
Faktor keturunan kuat terhadap pembentukan kepribadian. Warisan biologis menyediakan materi mentah kepribadian dan materi mentah ini sanggup dibuat dengan dan dalam banyak sekali cara.
Semua insan normal dan sehat mempunyai persamaan biologis, menyerupai mempunyai panca indera, kelenjar seks, dan otak. Persamaan biologis ini membantu kita menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadian dan sikap semua orang. Namun demikian, setiap warisan biologis seseorang juga unik. Artinya, tidak seorang pun (kecuali anak kembar) mempunyai karakteristik fisik yang sama dengan orang lain. Coba perhatikan teman di sekelilingmu! Adakah kesamaan karakteristik fisik?
Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, karakteristik fisik tertentu menjadi suatu faktor dalam perkembangan kepribadian sesuai dengan bagaimana ia didefinisikan dan diperlakukan dalam masyarakat dan oleh kelompok pola seseorang. Contoh, kalau orang bertubuh tegap dibutuhkan untuk selalu memimpin dan dibenarkan kalau bersikap menyerupai pemimpin, tidak mengherankan kalau mereka akan selalu bertindak menyerupai pemimpin. Jadi, orang menanggapi impian sikap dari orang lain dan cenderung menjadi berperilaku menyerupai yang dibutuhkan oleh orang lain itu.
Untuk beberapa ciri, faktor warisan biologis lebih penting dari yang lain. Contoh, hasil penelitian menunjukkan bahwa IQ (tingkat kecerdasan) anak angkat lebih menyerupai dengan IQ orang renta kandungnya dibanding orang renta angkatnya. Hal ini berafiliasi dengan faktor keturunan. Warisan biologis juga berafiliasi dengan gen orang tuanya, menyerupai golongan darah, jenis penyakit tertentu menyerupai diabetes, alergi, jantung koroner, asma, dan vertigo. Warisan biologis beserta perbedaan-perbedaannya tentu akan mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.
Lingkungan Fisik (Geografis)
Perbedaan sikap kelompok terutama disebabkan oleh perbedaan iklim, topografi (permukaan atau relief bumi), dan sumber alam. Orang yang hidup di kawasan pegunungan yang menyebarkan pertanian akan berbeda kepribadiannya dengan orang yang hidup di tepi pantai sebagai nelayan. Demikian pula, orang yang hidup di kawasan panas dan miskin cenderung berbeda kepribadiannya dengan orang dari kawasan yang subur dan kaya. Contoh, suku Ik (baca "eek") di Uganda tinggal di kawasan kering, miskin, dan mengalami kelaparan. Kondisi ini kuat pada kepribadian mereka yang tamak, rakus, sama sekali tidak ramah, tidak suka menolong, tidak mempunyai rasa kasihan, malah merebut masakan dari lisan anak mereka dalam memperjuangkan hidup. Kondisi ini berbeda dengan bangsa Samoa di Australia, misalnya, yang hanya memerlukan sedikit waktu setiap harinya untuk mendapat banyak makanan, bahkan lebih banyak daripada yang bisa mereka makan. Contoh ini menunjukkan bahwa lingkungan fisik mempengaruhi kepribadian dan sikap seseorang atau kelompok orang.
Kebudayaan
Kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan insan sebagai makhluk sosial, baik berupa gagasan, aktivitas, dan hasil dari acara insan yang dipakai untuk memahami lingkungan dan pengalamannya, serta dijadikan fatwa hidup anggota masyarakat. Di dalam kebudayaan terkandung unsur-unsur, menyerupai kepercayaan, mata pencaharian, kesenian, dan etika istiadat. Contohnya, budaya Islam merupakan keseluruhan gagasan, aktivitas, dan hasil dari acara masyarakat muslim yang dijadikan sebagai fatwa tingkah laku. Budaya laut merupakan keseluruhan gagasan, aktivitas, dan hasil dari acara masyarakat yang hidupnya tergantung dari sumber daya kelautan.
Kebudayaan berperan dalam membentuk kepribadian seseorang dan masyarakat. Setiap kebudayaan menyediakan seperangkat norma, yang berbeda dari masyarakat satu ke masyarakat lainnya dan mempengaruhi kepribadian anggotanya. Contohnya, dalam masyarakat suku Suni di Meksiko terdapat norma etika yang mengharuskan setiap anggotanya mempunyai rasa aib dan mengendalikan diri. Selain itu, orang renta serta orang cukup umur lainnya mempunyai tanggung jawab atas kasih sayang terhadap anak-anak. Orang renta jarang menghukum anak-anaknya. Dengan kebudayaan menyerupai ini, belum dewasa suku Suni tumbuh dan mempunyai kepribadian yang tenang, suka bekerja sama. Mereka tidak suka laga dan berperilaku bergairah lainnya, menyerupai minum minuman keras lantaran mereka yakin hal ini akan menjadikan masalah. Contoh lain, orang Bugis mempunyai budaya merantau dan mengarungi lautan. Budaya ini menciptakan langsung orang-orang Bugis menjadi pemberani.
Pengalaman Kelompok
Masyarakat beragam mempunyai kelompok-kelompok dengan budaya dan standar atau ukuran moral yang berbeda-beda. Standar atau ukuran tersebut dipakai untuk menentukan mana kepribadian yang baik (sesuai dengan harapan) dan mana yang tidak baik.
Kadang kala ukuran evaluasi antarkelompok saling berbeda. Ada kalanya seseorang dihadapkan pada model-model sikap yang pada ketika yang sama bisa dicela, didukung, diakui, atau dikutuk oleh kelompok lain. Dari hal tersebut, seseorang harus mau dan bisa untuk memilah-milahkannya. Contoh, anak usia remaja lebih menekankan kekuatan "aku"-nya (ego) untuk menanamkan corak sikap melalui kelompok sebayanya, walaupun bertentangan dengan corak sikap keluarganya. Hal ini kadang menjadikan konflik antara remaja dan orang renta lantaran remaja tersebut lebih menentukan nilai dan aturan kelompoknya daripada nilai dan aturan keluarganya. Misalnya, seorang remaja putri memakai aksesoris ke sekolah untuk menunjukkan identitas dirinya dan melaksanakan konformitas dengan teman sebaya, meskipun hal tersebut tidak sesuai dengan nilai norma maupun corak sikap yang dianut oleh orangtuanya.
Di samping itu, jikalau seorang anak kurang diperhatikan oleh keluarganya, anak itu menjadi badung lantaran merasa dirinya tidak dicintai, tidak berharga, dan tidak berkemampuan. Ia akan bergabung dengan kelompoknya yang mempunyai standar atau ukuran sikap yang sesuai dengannya. Sebaliknya, anak yang mempunyai sikap baik akan mengelompokkan dirinya dengan anak yang baik pula. Contoh, tidak sedikit remaja yang karam pada penyalahgunaan obat terlarang atau menjadi anak badung dilatarbelakangi oleh ketidakharmonisan keluarga atau merasa kurang diperhatikan (meskipun ada faktor lain yang mempengaruhinya).
Pengalaman Unik
Menurut Paul B. Horton, pengalaman unik mengandung pengertian bahwa tidak seorang pun mengalami serangkaian pengalaman yang persis sama satu sama lainnya dan tidak seorang pun mempunyai latar belakang pengalaman yang sama.
Pengalaman unik sanggup membentuk kepribadian seseorang. Contoh, ada dua gadis manis dalam satu keluarga, yakni gadis A dan gadis B. Gadis A lebih percaya diri dan hening dalam penampilan. Gadis B kurang percaya diri dan penampilannya biasa-biasa saja. Apa yang sebetulnya terjadi? Bagaimana dua orang yang sama manis mempunyai kepribadian yang berbeda? Proses ini didapat dari sikap orang renta dan keluarganya yang menyampaikan bahwa gadis A cantik. Hal itu diucapkan berulang-ulang oleh orang yang berbeda-beda. Dengan ini, gadis tersebut akan bertindak dalam setiap penampilan sebagai orang cantik. Tindakan dan perasaannya sangat yakin bahwa ia benar-benar cantik. Hal demikian akan mempengaruhi terbentuknya langsung yang penuh percaya diri.
Sebaliknya, orang renta memperlakukan gadis B menyerupai anak yang tidak menarik. Perlakuan orang renta itu mempengaruhi pembentukan langsung gadis tersebut sehingga kurang percaya diri dan bertindak serba ragu-ragu.
Dari kelima faktor pembentuk kepribadian di atas, sosiologi tidak memusatkan perhatiannya pada faktor warisan (keturunan biologis) dan lingkungan fisik. Fokus sosiologi dalam mengkaji pembentukan diri ialah interaksi seseorang dengan orang lain. Hal ini disebabkan lantaran diri seseorang terbentuk melalui refleksi atau cerminan orang lain terhadapnya. Refleksi-refleksi ini sanggup dilihat di dalam tiga faktor pembentukan kepribadian yang lain (lingkungan kebudayaan, pengalaman kelompok, dan pengalaman unik).
Warisan Biologis (Keturunan)
Faktor keturunan kuat terhadap pembentukan kepribadian. Warisan biologis menyediakan materi mentah kepribadian dan materi mentah ini sanggup dibuat dengan dan dalam banyak sekali cara.
Semua insan normal dan sehat mempunyai persamaan biologis, menyerupai mempunyai panca indera, kelenjar seks, dan otak. Persamaan biologis ini membantu kita menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadian dan sikap semua orang. Namun demikian, setiap warisan biologis seseorang juga unik. Artinya, tidak seorang pun (kecuali anak kembar) mempunyai karakteristik fisik yang sama dengan orang lain. Coba perhatikan teman di sekelilingmu! Adakah kesamaan karakteristik fisik?
Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, karakteristik fisik tertentu menjadi suatu faktor dalam perkembangan kepribadian sesuai dengan bagaimana ia didefinisikan dan diperlakukan dalam masyarakat dan oleh kelompok pola seseorang. Contoh, kalau orang bertubuh tegap dibutuhkan untuk selalu memimpin dan dibenarkan kalau bersikap menyerupai pemimpin, tidak mengherankan kalau mereka akan selalu bertindak menyerupai pemimpin. Jadi, orang menanggapi impian sikap dari orang lain dan cenderung menjadi berperilaku menyerupai yang dibutuhkan oleh orang lain itu.
Untuk beberapa ciri, faktor warisan biologis lebih penting dari yang lain. Contoh, hasil penelitian menunjukkan bahwa IQ (tingkat kecerdasan) anak angkat lebih menyerupai dengan IQ orang renta kandungnya dibanding orang renta angkatnya. Hal ini berafiliasi dengan faktor keturunan. Warisan biologis juga berafiliasi dengan gen orang tuanya, menyerupai golongan darah, jenis penyakit tertentu menyerupai diabetes, alergi, jantung koroner, asma, dan vertigo. Warisan biologis beserta perbedaan-perbedaannya tentu akan mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.
Lingkungan Fisik (Geografis)
Perbedaan sikap kelompok terutama disebabkan oleh perbedaan iklim, topografi (permukaan atau relief bumi), dan sumber alam. Orang yang hidup di kawasan pegunungan yang menyebarkan pertanian akan berbeda kepribadiannya dengan orang yang hidup di tepi pantai sebagai nelayan. Demikian pula, orang yang hidup di kawasan panas dan miskin cenderung berbeda kepribadiannya dengan orang dari kawasan yang subur dan kaya. Contoh, suku Ik (baca "eek") di Uganda tinggal di kawasan kering, miskin, dan mengalami kelaparan. Kondisi ini kuat pada kepribadian mereka yang tamak, rakus, sama sekali tidak ramah, tidak suka menolong, tidak mempunyai rasa kasihan, malah merebut masakan dari lisan anak mereka dalam memperjuangkan hidup. Kondisi ini berbeda dengan bangsa Samoa di Australia, misalnya, yang hanya memerlukan sedikit waktu setiap harinya untuk mendapat banyak makanan, bahkan lebih banyak daripada yang bisa mereka makan. Contoh ini menunjukkan bahwa lingkungan fisik mempengaruhi kepribadian dan sikap seseorang atau kelompok orang.
Kebudayaan
Kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan insan sebagai makhluk sosial, baik berupa gagasan, aktivitas, dan hasil dari acara insan yang dipakai untuk memahami lingkungan dan pengalamannya, serta dijadikan fatwa hidup anggota masyarakat. Di dalam kebudayaan terkandung unsur-unsur, menyerupai kepercayaan, mata pencaharian, kesenian, dan etika istiadat. Contohnya, budaya Islam merupakan keseluruhan gagasan, aktivitas, dan hasil dari acara masyarakat muslim yang dijadikan sebagai fatwa tingkah laku. Budaya laut merupakan keseluruhan gagasan, aktivitas, dan hasil dari acara masyarakat yang hidupnya tergantung dari sumber daya kelautan.
Kebudayaan berperan dalam membentuk kepribadian seseorang dan masyarakat. Setiap kebudayaan menyediakan seperangkat norma, yang berbeda dari masyarakat satu ke masyarakat lainnya dan mempengaruhi kepribadian anggotanya. Contohnya, dalam masyarakat suku Suni di Meksiko terdapat norma etika yang mengharuskan setiap anggotanya mempunyai rasa aib dan mengendalikan diri. Selain itu, orang renta serta orang cukup umur lainnya mempunyai tanggung jawab atas kasih sayang terhadap anak-anak. Orang renta jarang menghukum anak-anaknya. Dengan kebudayaan menyerupai ini, belum dewasa suku Suni tumbuh dan mempunyai kepribadian yang tenang, suka bekerja sama. Mereka tidak suka laga dan berperilaku bergairah lainnya, menyerupai minum minuman keras lantaran mereka yakin hal ini akan menjadikan masalah. Contoh lain, orang Bugis mempunyai budaya merantau dan mengarungi lautan. Budaya ini menciptakan langsung orang-orang Bugis menjadi pemberani.
Pengalaman Kelompok
Masyarakat beragam mempunyai kelompok-kelompok dengan budaya dan standar atau ukuran moral yang berbeda-beda. Standar atau ukuran tersebut dipakai untuk menentukan mana kepribadian yang baik (sesuai dengan harapan) dan mana yang tidak baik.
Kadang kala ukuran evaluasi antarkelompok saling berbeda. Ada kalanya seseorang dihadapkan pada model-model sikap yang pada ketika yang sama bisa dicela, didukung, diakui, atau dikutuk oleh kelompok lain. Dari hal tersebut, seseorang harus mau dan bisa untuk memilah-milahkannya. Contoh, anak usia remaja lebih menekankan kekuatan "aku"-nya (ego) untuk menanamkan corak sikap melalui kelompok sebayanya, walaupun bertentangan dengan corak sikap keluarganya. Hal ini kadang menjadikan konflik antara remaja dan orang renta lantaran remaja tersebut lebih menentukan nilai dan aturan kelompoknya daripada nilai dan aturan keluarganya. Misalnya, seorang remaja putri memakai aksesoris ke sekolah untuk menunjukkan identitas dirinya dan melaksanakan konformitas dengan teman sebaya, meskipun hal tersebut tidak sesuai dengan nilai norma maupun corak sikap yang dianut oleh orangtuanya.
Di samping itu, jikalau seorang anak kurang diperhatikan oleh keluarganya, anak itu menjadi badung lantaran merasa dirinya tidak dicintai, tidak berharga, dan tidak berkemampuan. Ia akan bergabung dengan kelompoknya yang mempunyai standar atau ukuran sikap yang sesuai dengannya. Sebaliknya, anak yang mempunyai sikap baik akan mengelompokkan dirinya dengan anak yang baik pula. Contoh, tidak sedikit remaja yang karam pada penyalahgunaan obat terlarang atau menjadi anak badung dilatarbelakangi oleh ketidakharmonisan keluarga atau merasa kurang diperhatikan (meskipun ada faktor lain yang mempengaruhinya).
Pengalaman Unik
Menurut Paul B. Horton, pengalaman unik mengandung pengertian bahwa tidak seorang pun mengalami serangkaian pengalaman yang persis sama satu sama lainnya dan tidak seorang pun mempunyai latar belakang pengalaman yang sama.
Pengalaman unik sanggup membentuk kepribadian seseorang. Contoh, ada dua gadis manis dalam satu keluarga, yakni gadis A dan gadis B. Gadis A lebih percaya diri dan hening dalam penampilan. Gadis B kurang percaya diri dan penampilannya biasa-biasa saja. Apa yang sebetulnya terjadi? Bagaimana dua orang yang sama manis mempunyai kepribadian yang berbeda? Proses ini didapat dari sikap orang renta dan keluarganya yang menyampaikan bahwa gadis A cantik. Hal itu diucapkan berulang-ulang oleh orang yang berbeda-beda. Dengan ini, gadis tersebut akan bertindak dalam setiap penampilan sebagai orang cantik. Tindakan dan perasaannya sangat yakin bahwa ia benar-benar cantik. Hal demikian akan mempengaruhi terbentuknya langsung yang penuh percaya diri.
Sebaliknya, orang renta memperlakukan gadis B menyerupai anak yang tidak menarik. Perlakuan orang renta itu mempengaruhi pembentukan langsung gadis tersebut sehingga kurang percaya diri dan bertindak serba ragu-ragu.
Dari kelima faktor pembentuk kepribadian di atas, sosiologi tidak memusatkan perhatiannya pada faktor warisan (keturunan biologis) dan lingkungan fisik. Fokus sosiologi dalam mengkaji pembentukan diri ialah interaksi seseorang dengan orang lain. Hal ini disebabkan lantaran diri seseorang terbentuk melalui refleksi atau cerminan orang lain terhadapnya. Refleksi-refleksi ini sanggup dilihat di dalam tiga faktor pembentukan kepribadian yang lain (lingkungan kebudayaan, pengalaman kelompok, dan pengalaman unik).
Komentar
Posting Komentar