Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, interaksi sosial mustahil terjadi tanpa adanya dua syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.

Kontak Sosial
Kata "kontak" (Inggris: "contact”) berasal dari bahasa Latin con atau cum yang artinya gotong royong dan tangere yang artinya menyentuh. Jadi, kontak berarti gotong royong menyentuh. Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial tidak selalu terjadi melalui interaksi atau hubungan fisik, alasannya yaitu orang sanggup melaksanakan kontak sosial dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, contohnya bicara melalui telepon, radio, atau surat elektronik. Oleh lantaran itu, hubungan fisik tidak menjadi syarat utama terjadinya kontak.

Kontak sosial mempunyai sifat-sifat berikut.
1. Kontak sosial sanggup bersifat positif atau negatif. Kontak sosial positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah pada suatu kontradiksi atau konflik.
2. Kontak sosial sanggup bersifat primer atau sekunder. Kontak sosial primer terjadi apabila para penerima interaksi bertemu muka secara langsung. Misalnya, kontak antara guru dan murid di dalam kelas, penjual dan pembeli di pasar tradisional, atau pertemuan ayah dan anak di meja makan. Sementara itu, kontak sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui suatu perantara. Misalnya, percakapan melalui telepon. Kontak sekunder sanggup dilakukan secara eksklusif dan tidak langsung. Kontak sekunder eksklusif contohnya terjadi ketika ketua RW mengundang ketua RT tiba ke rumahnya melalui telepon. Sementara jikalau Ketua RW menyuruh sekretarisnya memberikan pesan kepada ketua RT semoga tiba ke rumahnya, yang terjadi yaitu kontak sekunder tidak langsung.

Komunikasi
Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan sikap (pembicaraan, gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Misalnya, seorang gadis dikirimi sekotak cokelat tanpa nama pengirim. Gadis itu menerimanya dengan suka cita. Tapi ia bertanya-tanya, siapa yang mengirimkannya, apa maksudnya, apakah sekotak cokelat itu simbol cinta kasih atau hanya sekadar simbol persahabatan? Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan reaksi dan tafsiran si gadis terhadap si pemberi cokelat.

Ada lima unsur pokok dalam komunikasi. Kelima unsur tersebut yaitu sebagai berikut.
1. Komunikator, yaitu orang yang memberikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain.
2. Komunikan, yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan.
3. Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan sanggup berupa informasi, instruksi, dan perasaan.
4. Media, yaitu alat untuk memberikan pesan. Media komunikasi sanggup berupa lisan, tulisan, gambar, dan film.
5. Efek, yaitu perubahan yang dibutuhkan terjadi pada komunikan, sesudah mendapatkan pesan dari komunikator.

Ada tiga tahap penting dalam proses komunikasi. Ketiga tahap tersebut yaitu sebagai berikut.
1. Encoding. Pada tahap ini, gagasan atau jadwal yang akan dikomunikasikan diwujudkan dalam kalimat atau gambar. Dalam tahap ini, komunikator harus menentukan kata, istilah, kalimat, dan gambar yang gampang dipahami oleh komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan kode-kode yang membingungkan komunikan.

2. Penyampaian. Pada tahap ini, istilah atau gagasan yang sudah diwujudkan dalam bentuk kalimat dan gambar disampaikan. Penyampaian sanggup berupa lisan, tulisan, dan adonan dari keduanya.

3. Decoding. Pada tahap ini dilakukan proses mencerna dan memahami kalimat serta gambar yang diterima berdasarkan pengalaman yang dimiliki.

Suatu kontak sanggup terjadi tanpa adanya komunikasi. Contohnya, orang bicara dalam bahasa Padang kepada orang yang hanya mengerti bahasa Jawa. Dalam perkara tersebut, kontak sosial sudah terjadi, tapi mereka tidak berkomunikasi alasannya yaitu salah satu penerima komunikasi tidak sanggup memahami apa yang ingin disampaikan oleh yang lain. Dengan demikian, suatu kontak tanpa adanya komunikasi tidak mempunyai arti apa-apa dalam sebuah interaksi sosial.

Interaksi sosial sendiri menjadi salah satu kajian penting dalam sosiologi. Beberapa tokoh sosiologi (sosiolog) mengkhususkan diri dalam melaksanakan studi terhadap interaksi sosial. Untuk mempelajari interaksi sosial, sosiolog memakai pendekatan tertentu yang dikenal dengan istilah perspektif interaksionis (interactionist perspective).

Salah satu pendekatan yang populer dalam perspektif interaksionis yaitu interaksionisme simbolik. Kata "simbolik" mengacu pada penggunaan simbol-simbol dalarn interaksi. Simbol yaitu sesuatu yang diberi nilai dan makna oleh penggunanya. Dengan demikian, simbol yang sama sanggup mempunyai makna yang berbeda-beda bagi setiap orang. Misalnya, warna putih sanggup diartikan sebagai pernyataan mengalah dalam perang atau sanggup diartikan suci.

Menurut Herbert Blumer, ada tiga pokok pikiran interaksionisme simbolik, yaitu act, thing, dan meaning. Seseorang bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) berdasarkan arti sesuatu itu bagi dirinya (meaning). Misalnya, tindakan (act) orang Hindu di India terhadap sapi (thing), berbeda dengan tindakan orang Islam terhadap sapi. Karena makna sapi (meaning) bagi kedua orang itu berbeda. Menurut orang Hindu di India, sapi yaitu hewan suci, sedangkan berdasarkan orang Islam tidak.

Makna itu sendiri muncul dari interaksi sosial. Makna itu tidak eksklusif diberikan atau ditanggapi begitu saja oleh seseorang, tapi melalui proses penafsiran lebih dulu. Contohnya, seorang gadis yang mendapatkan ucapan salam dari seorang perjaka di pinggir jalan tidak eksklusif menjawab salam tersebut. Ia akan mereka-reka atau menafsirkan dulu, apakah perjaka itu berniat baik atau buruk.

W.I. Thomas (1968) juga menyatakan bahwa seseorang tidak eksklusif bereaksi atau memberi jawaban (response) terhadap rangsangan dari luar (stimulus), tapi didahului oleh tahap evaluasi atau pertimbangan berdasarkan definisi situasi. Misalnya, pada tumpuan gadis dan ucapan salam di atas. Jika gadis itu mendefinisikan bahwa perjaka di pinggir jalan yang mengucapkan salam kepadanya tidak berniat baik, ia akan bereaksi atau bertindak sesuai dengan definisi yang ia buat, yaitu tidak menjawab ucapan salam tersebut.

Sosiolog lain yang memberi fatwa penting dalam kajian interaksi sosial yaitu Erving Goffman. Menurut Goffman, individu yang bertemu dengan orang lain akan mencari gosip wacana orang tersebut semoga ia sanggup mendefinisikan situasi. Dalam pertemuan itu, masing-masing pihak, sengaja atau tidak, menciptakan pernyataan (ekspresi) semoga pihak yang lain terkesan (impresi). Usaha menghipnotis kesan orang lain ini disebut Goffman sebagai pengaturan kesan (impression management).

Goffman membedakan ekspresi dalam dua macam, yaitu ekspresi yang diberikan dan ekspresi yang dilepaskan. Ekspresi yang diberikan (expression given) yaitu pernyataan yang dimaksudkan untuk memberi kesan atau gosip sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku atau pernyataan itu memang biasa dilakukan. Sementara itu, ekspresi yang dilepaskan (expression given off) yaitu pernyataan yang mengandung informasi, yang berdasarkan orang lain memunculkan ciri tertentu dari si pembuat ekspresi. Misalnya, orang yang diberi dukungan selayaknya mengucapkan terima kasih. Tetapi, ada orang yang mengucapkan terima kasih dengan berwajah masam. Ucapan terima kasih yaitu ekspresi yang diberikan, sedangkan wajah masam yaitu ekspresi yang dilepaskan yang sanggup memberikan perasaan orang itu sebenarnya.

Interaksi sosial menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial. Dari interaksi antarindividu, individu dan kelompok, dan antarkelompok akan tumbuh jalinan kerja sama, saling membutuhkan, dan saling pengertian yang sangat penting dalam mewujudkan kehidupan bersama yang dinamis. Interaksi sosial yaitu bentuk umum proses sosial, di mana individu dan kelompok menyebarkan cara-cara bekerjasama dengan individu dan kelompok lain. Mereka saling bertemu dan menentukan sistem dan bentuk-bentuk hubungan yang dipakai. Mereka juga menentukan hubungan apa yang akan terjadi jikalau ada perubahan yang sanggup mengganggu pola kehidupan yang telah ada. Dalam proses sosial ini, ada imbas timbal balik antara banyak sekali aspek dalam masyarakat, misalnya, imbas timbal balik antara sosial dan politik, ekonomi dan politik, atau ekonomi dan hukum. Dari proses sosial ini, akan berkembang aktivitas-aktivitas sosial yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.

Secara umum, interaksi sosial sanggup terjadi antara individu dan individu, individu dan kelompok, serta kelompok dan kelompok. Interaksi antara individu dan individu sanggup bersifat positif maupun negatif. Bersifat positif artinya saling menguntungkan, sedangkan bersifat negatif artinya merugikan salah satu pihak atau keduanya (bermusuhan). Contoh interaksi yang positif yaitu kegiatan seorang ibu membantu anaknya belajar. Contoh interaksi yang negatif yaitu peperangan atau perkelahian antara dua kelompok atau negara.

Interaksi sosial antara individu dan kelompok contohnya terjadi antara seorang instruktur sepak bola dengan para pemainnya. Ketika hendak bertanding, instruktur pertanda seni administrasi bertanding, sedangkan para pemain mendengarkan sambil sesekali bertanya dan mengajukan usulan. Demikian pula interaksi antara guru dan murid-muridnya. Dalam interaksi antara individu dan kelompok ini sanggup terjadi pula interaksi sosial antarindividu, contohnya pemain sepak bola yang satu dengan pemain lain membahas keterangan dari pelatih.

Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok contohnya tampak ketika persatuan perjaka dari banyak sekali tempat bertemu untuk membahas jadwal kongres perjaka nasional. Tiap kelompok akan mengajukan saran wacana jenis-jenis jadwal yang ingin mereka tampilkan. Pada umumnya, interaksi sosial antarkelompok tidak bekerjasama dengan kepentingan pribadi atau kepentingan individu sebagai anggota kelompok.

Interaksi sosial juga sanggup terjadi meskipun orang yang saling bertemu muka tidak saling berbicara secara verbal (bicara dengan bahasa lisan) atau sengaja saling menukar tanda-tanda. Hal ini disebabkan masing-masing orang tersebut saling menyadari keberadaan pihak lain yang sanggup menimbulkan perubahan dalam hal perasaan dan syaraf. Contoh, basi keringat, minyak wangi, atau bunyi sepatu orang yang sedang berjalan. Semuanya akan menjadikan kesan di dalam pikiran seseorang yang akan menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya, menyerupai menutup hidung ketika tercium basi keringat atau menoleh dan mencari tahu dari mana asal bunyi sepatu.

Komentar