Jual Tanah Kavling Murah Di Bekasi Relasi Antara Sikap Menyimpang Dan Sosialisasi Yang Tidak Sempurna
Setiap pelaku sosialisasi mempunyai fungsi masing-masing yang seharusnya saling melengkapi. Akan tetapi, pada kenyataannya sering terjadi ketidaksepadanan antara pesan yang disampaikan pelaku sosialisasi yang satu dengan pelaku sosialisasi yang lain. Ketidaksepadanan ini menciptakan proses sosialisasi menjadi kurang sempurna. Contohnya, sebuah keluarga memperlihatkan pesan untuk tidak merokok kepada anggota keluarganya (anak). Namun, si anak melihat atau membaca di media massa bagaimana rokok diiklankan dengan sangat menarik. Ia juga mungkin melihat bahwa teman-teman di kelompok bermainnya semuanya merokok. Anak itu akan mengalami konflik batin antara menghargai norma atau nilai yang diberikan keluarga atau menentukan norma yang berkembang pada kelompok bermainnya.
Pada kondisi di atas bukan mustahil anak akan berperilaku menyimpang. Jika anak mengikuti pesan dari keluarga, maka ia akan menyimpang dari nilai dan norma kelompoknya. Sementara jikalau anak itu mengikuti pesan dari kelompok bermainnya, maka ia akan menyimpang dari nilai dan norma keluarganya.
Ketidaksepadanan pesan-pesan yang disampaikan oleh pelaku-pelaku sosialisasi juga bisa dilihat dari maraknya perkelahian antarpelajar yang menjurus pada tindakan kriminal, ibarat pembunuhan dan perusakan. Masalah ini tentu sangat meresahkan. Perilaku ibarat ini akan menghancurkan sendi-sendi kemasyarakatan maupun kenegaraan. Mereka akan selalu menganggap bahwa kekerasan ialah satu-satunya cara untuk menuntaskan masalah.
Norma-norma dan nilai sosial keagamaan yang ditawarkan semenjak mereka bayi tidak cukup berjalan dan sinkron untuk bisa dihadapkan dengan kenyataan dalam masyarakat. Para orang bau tanah dan pemimpin tidak cukup terbuka untuk memberikan kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam bermasyarakat. Ada perasaan canggung dan tidak pantas untuk memberikan fakta kekerasan yang terjadi di masyarakat. Akibatnya, belum dewasa dan para cukup umur akan mencari sendiri contohnya melalui media massa ibarat televisi. Mereka kemudian menciptakan pembenaran atau persepsi sendiri atas suatu perbuatan. Contoh, begitu banyak film yang menampilkan nilai kekerasan yang sebenarnya tidak sesuai dengan nilai yang mereka peroleh dari agama atau keluarga. Namun, alasannya ialah kurang menerima klarifikasi dari orang bau tanah maupun pelaku pembina yang lain, mereka kemudian mempersepsikan bahwa tokoh-tokoh keras ialah pahlawan (hero). Persepsi ini akan terbawa saat mereka menghadapi perkara dengan sesama pelajar. Terjadilah tawuran.
Perilaku menyimpang juga bisa terjadi saat dalam proses sosialisasi, seseorang mengambil tugas yang salah dari generalized others atau menggandakan sikap yang salah. Contoh, dalam masyarakat tentu mempunyai pemimpin, entah itu pemimpin formal, ibarat lurah, RT, maupun pemimpin nonformal, ibarat pemuka agama atau adat. Seorang pemimpin idealnya bertindak sebagai panutan yang bisa memberi teladan bagi anggota masyarakat yang lainnya. Terlebih lagi dalam masyarakat paternalistik ibarat Indonesia, keteladanan pemimpin (patron) akan menjadi model bahkan kebenaran sikap bagi bawahan atau anggotanya (client). Namun, kadang terjadi seorang pemimpin justru memberi pola yang salah kepada masyarakatnya, ibarat melaksanakan kolusi, korupsi, manipulasi, dan nepotisme. Celakanya, alasannya ialah pelakunya mempunyai kekuasaan, penyimpangan tersebut kesudahannya diterima masyarakat sebagai "nilai atau norma" yang diikuti. Akhirnya berkembanglah penyimpangan ini dalam masyarakat.
Perilaku menyimpang juga terjadi pada masyarakat yang mempunyai nilai-nilai subkebudayaan yang menyimpang, yaitu suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma budaya yang dominan. Kebudayaan tersebut terdapat pada lingkungan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang berbeda dengan nilai-nilai yang secara umum dikuasai ibarat nilai-nilai yang berlaku di kawasan kumuh, di lokalisasi pelacuran, dan lingkungan perjudian.
Contoh, di lingkungan kumuh, perkara budpekerti kurang diperhatikan alasannya ialah masyarakatnya lebih sibuk dengan perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi kebanyakan mereka, cekcok antarwarga dengan mengeluarkan kata-kata kasar, atau tindakan buang sampah sembarangan, ataupun membunyikan radio dengan keras menjadi hal yang biasa.
Di tempat-tempat ibarat itu, banyak terjadi tindakan yang oleh masyarakat lingkungannya merupakan hal yang biasa namun bagi masyarakat umum dianggap sebagai sikap yang menyimpang. Di tempat-tempat itu, yang dipelajari dalam proses sosialisasi ialah nilai dan norma yang menyimpang berdasarkan standar nilai dan norma masyarakat umum.
Pada kondisi di atas bukan mustahil anak akan berperilaku menyimpang. Jika anak mengikuti pesan dari keluarga, maka ia akan menyimpang dari nilai dan norma kelompoknya. Sementara jikalau anak itu mengikuti pesan dari kelompok bermainnya, maka ia akan menyimpang dari nilai dan norma keluarganya.
Ketidaksepadanan pesan-pesan yang disampaikan oleh pelaku-pelaku sosialisasi juga bisa dilihat dari maraknya perkelahian antarpelajar yang menjurus pada tindakan kriminal, ibarat pembunuhan dan perusakan. Masalah ini tentu sangat meresahkan. Perilaku ibarat ini akan menghancurkan sendi-sendi kemasyarakatan maupun kenegaraan. Mereka akan selalu menganggap bahwa kekerasan ialah satu-satunya cara untuk menuntaskan masalah.
Norma-norma dan nilai sosial keagamaan yang ditawarkan semenjak mereka bayi tidak cukup berjalan dan sinkron untuk bisa dihadapkan dengan kenyataan dalam masyarakat. Para orang bau tanah dan pemimpin tidak cukup terbuka untuk memberikan kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam bermasyarakat. Ada perasaan canggung dan tidak pantas untuk memberikan fakta kekerasan yang terjadi di masyarakat. Akibatnya, belum dewasa dan para cukup umur akan mencari sendiri contohnya melalui media massa ibarat televisi. Mereka kemudian menciptakan pembenaran atau persepsi sendiri atas suatu perbuatan. Contoh, begitu banyak film yang menampilkan nilai kekerasan yang sebenarnya tidak sesuai dengan nilai yang mereka peroleh dari agama atau keluarga. Namun, alasannya ialah kurang menerima klarifikasi dari orang bau tanah maupun pelaku pembina yang lain, mereka kemudian mempersepsikan bahwa tokoh-tokoh keras ialah pahlawan (hero). Persepsi ini akan terbawa saat mereka menghadapi perkara dengan sesama pelajar. Terjadilah tawuran.
Perilaku menyimpang juga bisa terjadi saat dalam proses sosialisasi, seseorang mengambil tugas yang salah dari generalized others atau menggandakan sikap yang salah. Contoh, dalam masyarakat tentu mempunyai pemimpin, entah itu pemimpin formal, ibarat lurah, RT, maupun pemimpin nonformal, ibarat pemuka agama atau adat. Seorang pemimpin idealnya bertindak sebagai panutan yang bisa memberi teladan bagi anggota masyarakat yang lainnya. Terlebih lagi dalam masyarakat paternalistik ibarat Indonesia, keteladanan pemimpin (patron) akan menjadi model bahkan kebenaran sikap bagi bawahan atau anggotanya (client). Namun, kadang terjadi seorang pemimpin justru memberi pola yang salah kepada masyarakatnya, ibarat melaksanakan kolusi, korupsi, manipulasi, dan nepotisme. Celakanya, alasannya ialah pelakunya mempunyai kekuasaan, penyimpangan tersebut kesudahannya diterima masyarakat sebagai "nilai atau norma" yang diikuti. Akhirnya berkembanglah penyimpangan ini dalam masyarakat.
Perilaku menyimpang juga terjadi pada masyarakat yang mempunyai nilai-nilai subkebudayaan yang menyimpang, yaitu suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma budaya yang dominan. Kebudayaan tersebut terdapat pada lingkungan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang berbeda dengan nilai-nilai yang secara umum dikuasai ibarat nilai-nilai yang berlaku di kawasan kumuh, di lokalisasi pelacuran, dan lingkungan perjudian.
Contoh, di lingkungan kumuh, perkara budpekerti kurang diperhatikan alasannya ialah masyarakatnya lebih sibuk dengan perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi kebanyakan mereka, cekcok antarwarga dengan mengeluarkan kata-kata kasar, atau tindakan buang sampah sembarangan, ataupun membunyikan radio dengan keras menjadi hal yang biasa.
Di tempat-tempat ibarat itu, banyak terjadi tindakan yang oleh masyarakat lingkungannya merupakan hal yang biasa namun bagi masyarakat umum dianggap sebagai sikap yang menyimpang. Di tempat-tempat itu, yang dipelajari dalam proses sosialisasi ialah nilai dan norma yang menyimpang berdasarkan standar nilai dan norma masyarakat umum.
Komentar
Posting Komentar